Apa dampak dari to have yang terlalu ditinggikan?

Ketika motivasi to have sudah menguasai setiap langkah dalam bekerja, baik sebagai seorang karyawan ataupun pengusaha, tinggal ditunggu kapan semua itu akan menghancurkan kita. Usaha kita bisa bangkrut, kita bisa masuk penjara, ditinggalkan keluarga dan kawan, atau mengalami stres, frustasi dan hal-hal negatif lainnya.

Lee Iacocca pernah masuk ke dalam sejarah bisnis Amerika setelah dia mampu menyelamatkan Chrysler dari jurang kehancuran. Pada pertengahan masa jabatannya, Iacocca mampu menaikkan harga saham Chrysler mencapai 2,9 kali lipat. Namun, ternyata agenda utama Iacocca adalah membuat dirinya menjadi direktur utama paling terkenal dalam sejarah Amerika. Iacocca tampil secara tertaur dalam berbagai acara TV dan membintangi lebih dari delapan puluh iklan. Buku otobiografinya terjual tujuh juta kopi. Ketika Iacocca berkunjung ke Jepang, dia disambut oleh ribuan penggemarnya layaknya seorang selebriti.

Pada paruh kedua masa jabatannya, saham Chrysler jatuh 31 persen di bawah harga pasar. Iacocca terus menunda-nunda masa pensiunnya, dan ketika dia akhirnya pensiun, Iacocca menuntut perusahaan untuk tetap terus menyediakan jet pribadi dan menawarinya saham dengan harga khusus.merasa tidak puas dengan keadaan, Iacocca di kemudian hari melakukan kampanye pengambilalihan Chrysler dengan kasar. Namun, akhirnya Chrysler diambil-alih oleh sebuah pabrik mobil Jerman, Daimler-Benz.

Iacocca adalah seorang dirut yang memiliki valensi yang tinggi sehingga dengan valensinya dia mampu melakukan hal-hal yang hebat. Namun, karena dia terus meninggikan to have-nya, Iacocca menggali lubang kehancurannya sendiri. Pada akhirnya, Iacocca bukan hanya kehilangan kesuksesannya, tetapi to have-nya yang tinggi juga turut menghancurkan to be dan valensinya.

Jadi apa yang harus dilakukan berkaitan dengan to have?

To have sudah menjadi bagian dari jari diri kita sebagai manusia. Hanya malaikat yang merupakan makhluk yang tidak memiliki to have. Manusia yang tidak memiliki to be adalah zombie atau mayat hidup, sedangkan orang yang tidak memiliki valensi adalah orang gila.

Jadi apa yang harus kita lakukan dengan to have? Jawabannya jelas, abaikan saja! Jangan pikirkan. Jangan pernah pertimbangkan to have ketika kita hendak melakukan sesuatu. Jangan pernah berikan energi sedikit pun kepada to have. Orang bijak berkata, “Jangan tinggikan angan-anganmu.” Angan-angan bukan cita-cita. Angan-angan beorientasi to have sedangkan cita-cita berorientasi to be.

Tidak ada sedikit pun untungnya kita memikirkan to have. Pertama, karena to have yang dipikirkan bisa menghasilkan hal-hal negatif. Kedua, memikirkan to have berarti mengalihkan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk meraih to be dan meningkatkan valensi. dan ketiga yang sangat penting: Dipikirkan ataupun tidak dipikirkan, to have Anda pasti akan diperoleh mengikuti to be dan valensi Anda!

Kalau Anda berhasil mewujudkan to be, pasti to have yang berkait akan dapat Anda raih. Saat ini, jika Anda adalah staf penjualan di sebuah perusahaan, to be Anda adalah menjadi seorang manajer penjualan yang berhasil meningkatkan pendapatan perusahaan hingga 20%. Ketika valensi Anda mencukupi dan membuat Anda berhasil mewujudkan to be tersebut, Anda pasti akan dapatkan gaji dan tunjangan manajer serta bonus penjualannya. Kalau Anda adalah seorang pedagang bakso yang memiliki to be- itu tercapai, sudah pasti semua _to have yang sepantasnya dimiliki seorang pengusaha bakso tingkat nasional akan didapat.

”Kami mencoba menginat bahwa obat adalah untuk pasien… obat bukan untuk laba. Laba mengikuti, dan bila kita mengikuti hal itu, laba tidak pernah gagal untuk muncul. Semakin baik kita mengingatnya, laba akan semakin besar.”
-GEORGE MERCE II

Jadi, mulai saat ini, abaikan to have dan fokuslah pada to be dan valensi Anda. (Pada bab selanjutnya akan dijelaskan sebuah hukum alam yang akan menjamin datangnya to have kepada Anda sesuai dengan upaya yang Anda lakukan.)

Walaupun harus diabaikan, tidak berarti Kubik Leadership mengatakan bahwa Anda tidak boleh memiliki hal-hal bersifat materi. To have adalah sesuatu yang manusiawi. Saya pun yakin hal itu diperbolehkan oleh agama apa pun selama diraih dengan cara yang halal. Hanya, perlu dijaga. Jangan sampai to have berfungsi sebagai kemudi perjalanan hidup dan karier Anda.

Kalau Anda ingin punya rumah dan mobil, jangan pikirkan rumah dan mobil mewahnya (to have). Pikirkan, prestasi apa yang harus Anda raih (to be). Pikirkan dan usahakan cara untuk memiliki kemampuan mewujudkan prestasi (valensi). setelah itu, ketika valensinya siap dan to be-nya tercapai, rumah serta mobil mewah pasti akan Anda dapatkan.

Gaji adalah salah satu bentuk to have. Lalu apakah salah apabila Anda bekerja karena berharap mendapatkan gaji? Jelas tidak. Sekali lagi to have- tidak dilarang. Bahkan, kita diminta oleh tuhan untuk menyebar ke seluruh permukaan bumi, mencari rezeki sebanyak-banyaknya. Gaji sama seperti _achatina fulica atau bekicot yang khusus dibuat escargot, sebagai makanan enak, mahal, dan berkelas. Tapi, jika mengolahnya tidak baik, escargot bisa membuat Anda keracunan.

 Kalau Anda menempatkan tujuan mengejar gaji sebagai bagian dari proses memberi nafkah lebih baik bagi keluarga, untuk menyekolahkan anak-anak ke sekolah yang lebih baik, dan juga ditabung untuk meningkatkan usaha, tujuan itu telah menjadikan to have Anda bernilai positif. Bagi Anda, gaji atau uang hanya tujuan antara, yang sesungguhnya Anda kerja adalah menjadi ayah dan suami yang mampu menyejahterakan keluarga. Dengan demikian, to have bisa menjadi sesuatu yang baik selama to have tersebut Anda gunakan sebagai aset untuk meraih _to be- dan valensi yang lebih tinggi.

”Laba bukan tujuan akhir dan tujuan dari manajemen—tetapi apa yang membuat tujuan akhir dan tujuan manajemen tercapai.”
– DAVID PACKARD, PENDIRI HEWLETT-PACKARD.

Sumber: Buku Kubik Leadership

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter