BAB 2. VALESI

Suatu pagi, anak saya yang berumur lima tahun bertanya, “Ayah, kesuksesan itu apa, sih?” Saya berpikir sebentar, tersenyum, lalu menjawab, “Kesuksesan itu adalah ketika adik berhasil mencapai apa yang adik inginkan…” “Oohh,” jawabnya. Kemudian dia bertanya lagi, “Terus, supaya adik bisa sukses, gimana caranya, yah?” Saya tersenyum lebih lebar saat itu, kemudian mendekat dan merangkulnya.

Pagi itu saya habiskan waktu bersama anak saya berbicara tentang disiplin, rajin belajar, patuh pada perintah orangtua, makan secara teratur, dan tidur pada waktunya. Memang menjelaskan tentang sukses pada seorang anak terlihat sangat sederhana. Tetapi apakah memang sesederhana itu bagi kita yang telah dewasa, yang telah merasakan beratnya meraih penghasilan hidup layak? Malam harinya saya merenungkan pertanyaan anak saya kembali. Pertanyaan serupa yang sering diajukan puluhan, bahkan ratusan, orang dewasa di kelas-kelas pelatihan saya.

Apa yang membuat kita sukses? Sejarah pencairan rahasia kesuksesan sudah berjalan selama puluhan, ratusan hingga ribuan tahun. Adakalanya kecerdasan intelektual dianggap sebagai faktor yang punya sumbangan besar pada kesuksesan seseorang. Lain waktu mentalitas, seperti kemauan kuat, kegigihan, keuletan, dan keberanian mengambil risiko, dianggap lebih berperan dari kecerdasan. Belakangan hadir konsep kecerdasan emosi yang dianggap lebih hebat daripada kecerdasan intelektual. Dan yang terakhir, kesuksesan sering dikaitkan dengan tingkat spiritualitas seseorang.

Menurut saya, semua itu benar. Intelektualitas, mentalitas, emosionalitas, spiritualitas, dan semua faktor lain yang ada dalam diri manusia berkontribusi terhadap kesuksesan seseorang. Tentang mana yang memiliki kontribusi lebih besar, saya serahkan sepenuhnya kepada para ahli yang telah membuat kesimpulan dari penilitiannya masing-masing. Yang pasti, semuanya berperan. Menihilkan salah satu atau hanya menonjolkan satu faktor saja serta mengklaimnya sebagai faktor terpenting adalah sebuah kesalahan besar.

Ketika saya berbicara tentang rumus sukses dalam setiap pelatihan Kubik, juga dalam buku ini, saya hanya menggunakan satu kata saja yang dapat mewakili keseluruhan kapasitas manusia. Kata itu adalah Valensi. Kata ini berasal dari bahasa Latin valentia yang berarti kekuatan (power) atau kapasitas (capacity). Dalam ilmu kimia, valensi merupakan nilai yang menentukan jumlah atom yang dapat berkombinasi. Dengan kata lain, valensi merupakan kekuatan dari elemen-elemen dalam atom yang berkombinasi. Valensi juga menentukan bagaimana elemen tersebut bersatu, bereaksi dan berinteraksi satu sama lain.

Sama halnya dengan unsur kimia, manusia juga memiliki valensi, sebuah nilai dari kapasitas total kita sebagai manusia. Valensi merupakan representasi seluruh elemen yang ada dalam diri kita. Semua elemen tersebut bersatu dalam diri kita, saling bereaksi dan berinteraksi satu sama lain. Kombinasi dari elemen-elemen itulah yang menjadi nilai valensi kita.

Jadi, secara sederhana, valensi merupakan “takaran” atau “bobot” diri kita. Ketika seseorang menakar kemampuan diri kita, berarti dia sedang memberikan nilai pada valensi kita. Jika Anda sedang merekrut karyawan, seluruh interview dan tes yang diberikan pada pelamar merupakan cara Anda menentukan nilai valensinya. Jika Anda seorang pemimpin, Anda akan menimbang terlebih dulu bawahan yang akan ditugasi, apakah ia memiliki valensi yang cukup untuk mengemban tugas yang Anda berikan.

Setiap orang memiliki valensi berbeda-beda. Tidak ada orang yang memiliki valensi sama persis dengan orang lain. Selain itu, valensi yang anda miliki pada akhirnya akan menentukan hasil kerja Anda. Ketika saya bawa anak saya berlibur ke Malaysia dan Singapura beberapa waktu lalu, anak saya heran kenapa jalanan di sana lebih bersih daripada jalanan di Jakarta. Jawaban saya adalah karena mungkin kualitas tukang sapunya berbeda. Tukang sapu di Malaysia dan Singapura lebih baik daripada tukang sapu di Jakarta. Oleh sebab itu, hasil kerjanya juga pasti berbeda. Itulah cara sederhana saya menjelaskan pada anak saya bahwa orang memiliki valensi yang berbeda-beda.

Valensi adalah “takaran” atau “bobot” yang mewakili keseluruhan kapasitas diri Anda. Setiap orang memiliki valensi yang berbeda-beda. Valensi yang Anda miliki akan menentukan kualitas hasil kerja Anda dan memengaruhi tingkat sukses Anda.

Sumber: Buku Kubik Leadership

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter