MOTIVASI YANG MENCELAKAKAN
Anda telah memahami dasar motivasi manusia seperti yang telah dijelaskan di atas. Pertanyaannya sekarang adalah, benarkah rumus motivasi diatas dapat menempatkan Anda pada jalur kehidupan menuju kesuksesan jangka panjang dan kemuliaan hidup? Untuk menjawabnya, silakan renungkan tantangan pikiran di bawah ini:
TANTANGAN PIKIRAN:
Rumus Motivasi = To Be x To Have x Valensi adalah benar, tetapi rumus itu cenderung berorientasi pada kesuksesan jangka pendek. Selain itu, rumus tersebut juga bisa mencelakakan Anda dalam jangka panjang. Apa sebabnya?
Supaya bisa memperoleh gambaran lebih jelas, saya beri Anda contoh kesuksesan jangka pendek dan kesuksesan jangka panjang. Yang dimaksud cepat. Namun, kesuksesan tersebut tidak memiliki akar atau fondasi yang kuat sehingga mudah sekali digoyang dan kemungkinan besar tidak akan mampu bertahan lama.
Contoh kesuksesan jangka pendek adalah perekonomian Indonesia. Pada era Suharto, ekonomi Indonesia tumbuh sangat cepat. Dalam waktu relatif singkat, tercapai pertumbuhan ekonomi nasional antara nasional antara 7 sampai 9 persen. Namun, apa yang kemudian terjadi? Ternyata ketika krisis moneter melanda Asia, hanya dalam hitungan bulan, perekonomian Indonesia hancur berantakan karena fondasinya tidak kokoh. Ketika itu banyak perusahaan yang cepat membesar, namun cepat pula runtuh berantakan.
Anda mungkin masih ingat “bencana likuidasi massal’ dunia perbankan di Indonesia satu dekade lalu. Kesuksesan yang dibangun para pemilik bank tersebut merupakan contoh kesuksesan jangka pendek. Sebab, perkembangannya yang dipacu cepat tidak dilakukan di atas fondasi usaha yang kuat. Contoh lain yang sedikit lebih ekstrem adalah PT QSAR yang dimotori oleh Ramly Araby. Perusahaan itu dibangun dengan cepat, berkembang begitu cepat dan juga hancur dengan cepat. Kehancuran QSAR mengakibatkan Ramly Araby masuk penjara. Tak hanya itu, para investor yang menanamkan modal harus kena getah. Banyak dari mereka yang kehilangan harta, sakit, terkena stroke, bahkan juga dikabarkan meninggal karenanya.
Sedangkan, kesuksesan jangka pendek di tingkat individu bisa kita lihat pada pekerja atau pejabat yang berhasil menaiki tangga karier hingga puncaknya dengan cepat. Tidak lama kemudian kedudukannya digoyang sampai jatuh. Bahkan, ada yang dijebloskan ke dalam terali besi, dicerca banyak orang, dan dicaci lawan-lawannya. Contoh lain yang paling mudah kita lihat adalah kehidupan para artis yang dengan begitu cepat meraih kesuksesan. Namun, sekejap kemudian namanya tidak pernah terdengar lagi. Itu pun setelah diterpa gosip seputar perceraian, frustasi dan obat-obatan psikotropika, untuk melarikan diri dari kesedihan dalam kehidupannya.
Kesuksesan jangka panjang adalah kesuksesan yang dibangun di atas fondasi yang sangat kuat sehingga mampu melewati segala macam tantangan. Akhirnya, kesuksesan itu bukan hanya mampu bertahan, tetapi bahkan berkembang dari generasi ke generasi. Jim Collins dan Jerry Porras dalam bukunya Built to Last membuat daftar perusahaan yang mampu bertahan dan menikmati kesuksesan jangka panjang. Di antaranya adalah Citicorp (1812), Procter & Gamble (1892), Ford (1903), IBM (1911), Waltdisney (1923), dan Sony (1945).
Di Indonesia kita mengenal almarhum Thayeb Muhammad Gobel yang mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing tahun 1954. Usaha Gobel berkembang pesat dan bahkan mendapat kepercayaan dari Konosuke Matsushita untuk mengembangkan industri elektronik di Indonesia. Sampai saat ini, Gobel memiliki setidaknya 10 perusahaan untuk mendukung ekspansi usahanya. PT Sido Muncul semakin berkembang dan mengokohkan posisinya sebagai pemain utama di industri jamu.
Sudah ketemu jawaban dari tantangan pikiran tadi? Pasti ada yang tidak benar pada salah satu komponen motivasi. Apakah yang salah itu? to be? to have? atau valensi? Salah satu dari ketiga ini pasti ada yang berpotensi menjadi penghambat atau perusak usaha meraih kesuksesan jangka panjang.
Komponen yang berpotensi menjadi masalah dari rumus motivasi tersebut adalah to have, sebab to have yang sangat tinggi bisa menjadi parasit dalam jangka panjang karena hal-hal berikut:
1. To have yang tinggi akan membatasi to be & valensi
Kalau pikiran kita dijejali to have, kecenderungannya adalah setiap apa yang kita lakukan harus selalu dibalas dengan materi. Kita tidak ingin melakukan pekerjaan-pekerjaan besar kalau tidak dibayar setimpal. Prestasi kerja menjadi terbatas karena kita hanya bekerja sesuai gaji yang diterima dari perusahaan. Akhirnya, potensi diri atau valensi kita stagnan dan tidak akan pernah berkembang.
Selain itu, seseorang yang berorientasi to have akan berhenti mengejar to be dan valensi, sesaat setelah kebutuhan to have terpenuhi. Kita akan berkata seperti memberi pembenaran, “Tidak perlu bercita-cita tinggi, apalagi harus repot-repot meningkatkan kemampuan diri, yang penting sekarang, semua keinginan sudah saya dapatkan, saya punya rumah, gaji tinggi, mobil mewah, mau apa lagi?”
Sumber: Buku Kubik Leadership

Komentar Terbaru