Fitrah Sempurna di Zona Ikhlas
Saya sering bertanya-tanya sedikit frustasi – jika kita memang sudah diciptakan sempurna, lalu bagaimana cara mengaktifkan kesempurnaan itu? Frustasi seperti kalau kita baru membeli sebuah barang setelah melihat kehebatannya ditunjukkan oleh penjual, tetapi tidak demikian saat dicoba di rumah. Pertanyaan saya adalah how-to gimana sih caranya?
Manusia sempurna adalah manusia yang hidup seimbang dan utuh dengan seluruh kecerdasannya. Kecerdasan fisikal, intelektual, emosional, dan Spiritual (PQ, IQ, EQ, dan SQ). Kecerdasan fisik dan intelektual umumnya kita dapat dari bangku pendidikan, kecerdasan emosional dari pergaulan, dan kecerdasan spiritual dari kematangan pengalaman hidup. Itu semua adalah penjelasan teoritis yang juga kita bisa bicara dari berbagai literatur lainnya.
“Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At Tiin: 4)
Kepentingan kita di sini adalah mengubah informasi teoritis untuk menjadi pengalaman nyata yang empiris. Pengalaman yang akan bisa menjawab: Apakah pikiran itu? Bagaimana cara mengelola emosi? Bagaimana saya tahu bahwa saya sudah ikhlas? Bagaimana mengukurnya? Terbuat dari apakah pikiran, perasaan, jiwa?
Oleh karena, tidak hanya dalam Al-Quran kitab suci umat Islam, dalam kitab suci agama-agama lainnya juga dijelaskan hal serupa, bahwa manusia diciptakan dalam kesempurnaan. Iya akan kehilangan kesempurnaan itu jika tak bisa menjaga fitrahnya.
Dalam Kitab Bhagavad Gita disebutkan:
Hati orang yang telah mencapai hakikat kebenaran adalah penuh dengan ketenangan dan terhindar dari segala rasa gelisah. Iya tidak dapat dipengaruhi oleh kesenangan dan kesedihan. Ia menemukan kebahagiaan itu dalam jiwanya dan bersama pikiran tenggelam ke dalam hakikat kebenaran karena mengingat akan mencapai kekekalan Tuhan dan nirwana. Ia adalah orang telah dibersihkan jiwanya dari segala ketidak sempurnaan, Iya telah dapat menghancurkan segala rasa ragu, Iya dapat mengontrol jiwa dan akan mengalami ketentraman selamanya.
Istilah fitrah, menurut pemikiran Islam, Murtadha Mutahari, adalah bawaan alami, yang sudah melekat pada manusia, tanpa perlu diperoleh melalui usaha. Fitrah adalah eksistensi yang ada dalam kalbu dan nurani kita untuk mendapat hakikat kebenaran.
Kalau kita ingin melihat seperti apa sebetulnya kondisi fitrah manusia, kita bisa mengamati kehidupan anak balita. Anak-anak seusia itu akan selalu merasa bahagia, senang, tanpa beban, dan total dalam mengerjakan sesuatu. Saat bermain ia akan total bermain, saat menangis ia akan seratus persen menangis, dan saat tertawa ia akan tertawa dengan lepas. Ia, anak-anak, selalu berada di present moment, selalu terfokus pada apa yang sedang dialami saat ini.
Sri Sri Ravi Shankar, seorang spiritualis terkenal dunia, salah seorang nominator pemenang hadiah Nobel untuk Perdamaian di tahun 2006, mengatakan bahwa dirinya adalah anak-anak. Oleh karena itu, Ia selalu menyunggingkan senyum setiap waktu. Ia merasa dirinya senantiasa diliputi kebahagiaan.
Inilah yang harus manusia pertahankan dalam hidup sehingga Ia tetap pada fitrahnya. sayangnya, lingkungan hidup manusia telah membuat mereka melenceng jauh dari fitrahnya, seiring anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa, semua kesempurnaan manusia yang mereka miliki sejak lahir pun semakin pudar. Lingkungan telah membutakan mata dan hati mereka. untuk itu, berusahalah menjadi anak-anak agar kita dapat menemukan kembali fitrah kita. Yang selalu berbahagia. Yang selalu berfokus pada apa yang tengah kita tuju. Yang selalu ikhlas dan berprasangka baik terhadap yang lain. Yang selalu bersyukur pada apa yang kita dapat.
Sumber: Quantum Ikhlas
By: Erbe Sentanu

Komentar Terbaru