Virus Komputer Hayati
Gangguan virus bisa menyerang ke software hingga ke operating system. jika virus komputer bisa datang dari input email, pertukaran file, internet, dan lain sebagainya, hal serupa juga bisa menimpa manusia. Virus komputer hayati ini bisa datang dari input lewat panca indra berupa: gosip/cerita miring, berita kekerasan dan pornografi, lagu berlirik negatif/provokatif, makanan / minuman tidak halal, narkoba, dan lain sebagainya.
Efek yang dialami manusia akibat gangguan virus komputer hayati bisa berubah pikiran negatif, prasangka buruk, sampai perbuatan negatif yang merusak hidupnya. Seberapapun cerdasnya manusia, jika terjangkit virus, kualitas hidupnya (kesehatan tubuh, pikiran, relational, financial, emosional, spiritual) akan menurun sehingga manfaat hidup bagi dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya akan berkurang.
Selain virus, yang juga membuat komputer berjalan tidak optimal adalah kesalahan dalam pemrograman. Program (baca: pikiran) yang salah akan membuat manusia menjadi tidak yakin akan sifat kesempurnaannya. Oleh karena pikiran ini pula hatinya dipenuhi perasaan negatif, seperti putus asa, sedih, takut, nafsu, amarah, dan sombong. berbagai kesalahan prosedur internal inilah yang membuat manusia menjadi jauh dari sifat fitrahnya (manusia alias sempurna). Program-program yang ditanamkan baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain, kalau tidak hati-hati menerimanya, justru bisa merusak diri sendiri.
Keyakinan bahwa wanita adalah kaum yang lemah membuat wanita benar-benar menjadi kaum lemah. Seorang anak kecil yang diberi program “takut hantu”, maka sampai besar ia akan takut pada hantu, meski ia sendiri belum pernah melihat seperti apa wujud hantu itu.
Seorang anak yang dicekoki program “Jangan bicara kalau guru sedang mengajar”, maka ia akan menjadi anak pendiam dan pasif di sekolah, meski sebenarnya di benaknya banyak pertanyaan kreatif untuk gurunya.
Saat saya mau memasukkan anak saya ke salah satu sekolah berafiliasi internasional, pihak sekolah berpromosi bahwa mereka “menyiapkan lulusannya untuk siap bersaing di dunia yang kompetif”. Menurut saya, meskipun logis ini adalah salah satu program yang tidak seharusnya ditanamkan pada anak-anak kita.
Betapa tidak, “bersaing” itu artinya kita harus “berperang”. Harus menang. Artinya pula, di dalam perang sudah pasti akan ada yang menang dan ada yang kalah. Dan sadarkah kita, kalau begitu caranya, yang menjadi pemenang hanya satu orang, sementara yang lain kalah? Dan tentu saja, yang kalah lebih banyak dari yang menang! Dan mereka yang kalah itu manusia juga, sesama kita juga, saudara kita juga.
Mengapa dengan saudara sendiri kita dianjurkan untuk berperang? sadarkah mereka bahwa program-program semacam itulah yang telah menyebabkan banyak sekali kemarahan, pertengkaran, sampai perang antar negara di planet ini? Saya bertanya, mengapa program itu tidak diubah saja menjadi “mempersiapkan lulusnya untuk siap dan bisa *bekerja sama” saling membantu menciptakan dunia yang kooperatif?” Kalau kita mau me-reprogram seperti itu, pasti ada sesuatu yang lebih besar manfaatnya. Kerjasama akan jauh lebih baik dan bermanfaat dibandingkan dengan perang, bukan?
Sumber: Quantum Ikhlas
By: Erbe Sentanu

Komentar Terbaru