BAB 3. PRINSIP MANUSIA
Pada April 2005, masyarakat Indonesia dikejutkan berita media massa tentang Hasan yang memutuskan melakukan euthanasia untuk istrinya, yaitu menghentikan proses perawatan yang mengakibatkan kematian. Agian Isna Nauli, istri Hasan, telah 56 hari tak sadarkan diri seusai melahirkan anaknya melalui operasi caesar. Hasan setia menemani istrinya setiap hari di rumah sakit, tetapi sang istri tetap tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Semua bentuk pengobatan dilakukan tapi hasilnya sia-sia. Semakin lama Agian dirawat, semakin besar biaya yang dibutuhkan. Setelah semua harta benda habis dijual, Hasan berusaha mencari bantuan dana ke sana-kemari tapi tak juga didapat. Departemen Kesehatan yang menjanjikan bantuan pun tak kunjung merealisasikan janjinya.
Selain itu, semakin lama Hasan semakin iba melihat penderitaan istrinya yang hanya bisa hidup dengan alat bantu pernapasan. Saat itu terbesit sebuah pikiran pada diri Hasan untuk mengakhiri semua itu. Dengan berat hati, Hasan akhirnya memilih mengajukan euthanasia untuk istrinya ke pihak rumah sakit. Berita itu kemudian muncul di berbagai media massa. Pro dan kontra marak. Semua yang menentangnya menganggap itu melanggar norma dan hukum, tapi sebagian orang melihat itu sebagai sebuah pilihan pahit yang wajar untuk diambil. Akhirnya, permohonan euthanasia untuk Agian ditolak pemerintah. Dokter kemudian terus berusaha membuat Agian tetap hidup. Hingga akhirnya keajaiban terjadi, Agian menunjukkan kesembuhan secara berkala. Kini, Agian sudah bisa membuka matanya dan kondisinya berangsur-angsur membaik.
Saya dan tentu Anda sudah menyadari bahwa manusia adalah makhluk Tuhan paling sempurna. Begitu sempurnanya sehingga kemuliaan manusia melebihi makhluk lain. Tuhan juga telah memberi kita sebuah anugerah yang tidak Dia berikan kepada makhluk lain, yaitu kebebasan berkehendak. Manusia dapat memilih apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk dirinya; apa yang akan dia lakukan dan apa yang akan dia tinggalkan. Cerita Hasan dan Agian adalah contoh dari kebebasan berkehendak. Terlepas dari benar atau tidaknya pilihan Hasan, dan diterima atau tidaknya oleh masyarakat, saat itu Hasan telah menggunakan kebebasannya dalam berkehendak. Sebuah kebebasan yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan lainnya.
Kebebasan berkehendak itulah yang menghasilkan dorongan pada diri manusia untuk berbuat sesuatu. Itulah sebabnya saya memahami kebebasan berkehendak sebagai dasar dari motivasi manusia untuk melakukan sesuatu. Motivasi itu sendiri merupakan hal paling dasar yang dapat mendefinisikan kemanusiaan seseorang. Motivasi seseorang akan menentukan jalur kehidupannya. Prinsip manusia yang dibahas pada bab ini mengacu pada konsep motivasi tersebut.
Ada beberapa prinsip esensial berkaitan dengan motivasi yang harus dipahami. Ketika kita salah merumuskan motivasi hidup, kita akan menempuh kehidupan di jalur yang salah. Oleh sebab itu, kita perlu mempelajari dan memahami motivasi hidup kita sendiri. Apabila selama ini Anda merasa salah dalam menempuh jalur kehidupan, putarlah haluan dengan segera sebelum menyimpang terlalu jauh.
Sumber: Buku Kubik Leadership

Komentar Terbaru