• Valensi adalah kekuatan dan keterbatasan Anda

Valensi Anda adalah kekuatan Anda, itu pasti. Dengan valensi Anda dapat melakukan banyak hal, termasuk menjadikan investasi Rp200 juta bisa menghasilkan keuntungan Rp1 miliar dalam lima tahun. Valensi Anda banyak berperan dalam kesuksesan itu. Valensi Anda juga telah membuat Anda mudah bangkit dari berbagai kegagalan. Namun, valensi Anda juga merupakan keterbatasan diri Anda.

Apa maksudnya? Begini. Katakanlah nilai valensi Anda 100. Valensi itulah yang telah membuat Anda mampu menjadikan investasi Rp200 juta menghasilkan keuntungan Rp1 miliar dalam lima tahun. Itulah kekuatan valensi Anda.

Namun, karena valensi Anda “hanya” senilai 100, Anda tidak mampu mencetak keuntungan Rp5 miliar. Berbeda dari seorang pengusaha yang ternyata memiliki nilai valensi 200 sehingga dalam waktu lebih singkat ia mampu mencetak keuntungan Rp5 miliar. Dalam hal ini, valensi Anda menjadi keterbatasan Anda. Tingkat output yang bisa Anda hasilkan telah “ditakar” sesuai valensi yang Anda miliki. Jadi, valensi Anda adalah kekuatan sekaligus keterbatasan Anda.

Mike Tyson dikenal sebagai seorang petinju kelas berat dunia. Dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, kemenangan-kemenangan dengan mudah didapatkannya. Tapi semua orang mengetahui bahwa kehebatan Tyson tidak lepas dari bantuan dan didikan dari Cus D’Amato yang berperan bukan hanya sebagai seorang pelatih, tetapi sudah dianggapnya sebagai ayahnya sendiri. D’Amato tidak hanya melatih fisik Tyson tapi juga mentalnya. Ketika pada 1985 D’Amato meninggal, Tyson kehilangan pegangan. Tyson menjadi labil, tidak terkontrol, dan cenderung liar.

Pada 11 Juni 2005, Tyson resmi mengundurkan diri dari dunia tinju. Kehebatan fisik hanyalah sebagian dari apa yang membentuk valensi. Tyson mungkin memiliki kemampuan fisik luar biasa, tetapi dia memiliki mental yang sangat lemah. Kelemahan mental inilah yang kemudian menjadikan nilai total valensi Tyson rendah. Valensinya telah membuatnya menjadi juara tinju dunia, tetapi valensinya jugalah yang telah menjatuhkannya.

Sumber: Buku Kubik Leadership

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter