Bahagia adalah Fitrah

Bahagia, memang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia, karena menurut fitrahnya, manusia itu diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan. Manusia adalah makhluk sebaik-baik ciptaan-Nya. Artinya, manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Kondisi ini sebetulnya sudah ternyatakan oleh Tuhan di dalam berapa ayat Al-Quran.

Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan lautan, dan Kami telah memberikan rezeki yang baik kepada mereka, dan Kami telah lebihkan mereka dari antara makhluk-makhluk yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. QS. Al-Isra:70

Kabir Helminski, seorang penulis literatur sufi dan penerus tradisi Maulawi Jalaluddin Rumi menulis tentang manusia sempurna dalam bukunya, The Knowing Heart: A Sufi Path of Transformation. Menurut dia, sifat manusia sempurna adalah refleks dari sifat-sifat Tuhan. Tuhan mempunyai sifat yang tidak terbatas yang 99 diantaranya disebutkan di dalam Al-Quran.  Kesempurnaan manusia adalah takdir bawaan kita, yang memerlukan hubungan harmonis antara kesadaran kita dan Rahmat Ilahi. Sifat-sifat manusia sempurna menurut Kabir Helminski adalah:

1. Pengetahuan diri. Tingkat pengetahuan kita terhadap diri sendiri kelemahan, keterbatasan, karakteristik, dan motivasi kita.
2. Pengendalian Diri. Kemampuan untuk membimbing dan mentransendensikan dorongan- dorongan nafsu.
3. Pengetahuan yang objektif. Pengetahuan yang berkesesuaian baik dengan kebutuhan praktis maupun realitas objektif yang dapat diketahui melalui hati yang sadar dan suci.
4. Pengetahuan batin. kemampuan untuk mengakses bimbingan dan makna dari dalam batin sendiri.
5. Hadir. Kemampuan untuk tetap dalam kondisi khusyuk, yakni secara sadar merasakan pengalaman.
6. Cinta tanpa pamrih. Mencintai Tuhan dan ciptaan-Nya tanpa motif kepentingan diri.
7. Meningkatkan perspektif ilahiah. Kemampuan untuk selalu melihat kejadian-kejadian dari manusia dari perspektif tertinggi cinta dan tauhid dan tidak terperosok ke dalam penilaian dan pendapatan yang egois.
8. Intim dengan Tuhan. Menyadari hubungan dengan sumber Ilahi.

Sumber: Quantum Ikhlas
By: Erbe Sentanu

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter