Bab 4. Koin Keberuntungan & 3 Komoditas Termahal

Pilih Mana, Kepastian Atau Ketidakpastian?

Siang itu, untuk ke sekian kalinya saya berada di Lombok, pulau terindah di nusantara. Setelah mengunjungi Masjid Bayan yang berusia hampir 500 tahun, saya menyempatkan diri mengunjungi air terjun pertama dan air terjun kedua di kaki Gunung Rinjani, salah satu gunung tertinggi di nusantara.

Cukup melelahkan memang. Karena harus jalan kaki hampir 5 km pergi-pulang menembus hutan. Namun itu sangatlah layak, mengingat betapa mengagumkan kedua air terjun tersebut. (Sedikit-banyak, masjid dan air terjun di Lombok ini mengingatkan saya pada Masjid Katangka yang berusia 400 tahun dan air terjun Bantimurung, di Makassar.)

Adapun bab ini saya ketik saat saya berada di tepian Senggigi, sebuah pantai yang sangat memanjakan panca indera. Asyik-asyik mengetik, tahu-tahu seekor burung kecil hinggap di dada saya. Walaupun rada kaget, namun sedikit-banyak kejadian ini mengilhami saya, betapa burung itu siap menghadapi risiko dalam menjemput rezeki.

Nah, bicara soal risiko dan rezeki, tahukah Anda:
• Kata risk (risiko) itu berasal dari _rizki). Hehehe, asal!
• Ini bermaksud, semakin berisiko, yah semakin berezeki.
• Kalau tidak ada risikonya, yah tidak ada rizekinya.
• Pekerjaan seorang office boy, mohon maaf, adakah risikonya? Ada, tapi kecil. Begitu pula rezekinya. Kecil.
• Pekerjaan seorang general manager, adakah risikonya? Ada, dan besar. Begitu pula rezekinya. Besar.
• Pekerjaan seorang business owner, adakah risikonya? Ada, dan sangat besar. Begitu pula rezekinya. Sangat besar.
• Omong-omong, Anda kenal orang yang namanya Rizki? Nah, tolong Anda ingatkan dia, karena hidupnya penuh risiko! Hehehe! Mudah-mudahan juga penuh rezeki!

Lebih lanjut, sebenarnya risiko adalah soal ketidakpastian. Dan ketidakpastian sendiri adalah rahmat. Kok bisa?
• Karena, apabila sesuatu itu tidak pasti -apakah itu rezeki, jodoh, dan maut, maka manusia akan optimal ikhtiar dan ibadahnya.
• Bayangkan, rezeki Anda sudah ketahuan. Sudah pasti jumlahnya. Apakah Anda masih mau bekerja? Apakah Anda masih mau sholat dhuha?
• Bayangkan, jodoh Anda sudah ketahuan. Sudah pasti orangnya. Apakah Anda masih mau berusaha? Apakah Anda masih mau sholat tahajjud?
• Nah, makanya, ketidakpastian itu adalah rahmat. Dengan begitu, Anda pun optimal berikhtiar dan beribadah. Right?

Contoh kecil saja. Ketika Anda pesawat dan cuaca baik-baik saja, biasanya Anda akan tidur-tiduran, baca-baca, atau ngobrol-ngobrol. Tapi, begitu cuaca memburuk dan semuanya berguncang, maka Anda komat-kamit membaca doa, zikir, dan shalawat. Bahkan orang atheis pun akan ikut-ikutan berdoa. Demikianlah, ketidakpastian itu adalah rahmat, yang membuat Anda optimal ikhtiar dan ibadahnya.

Celakanya, apa yang terjadi malah sebaliknya. Orang kiri malah menyukai kepastian. Ini kan aneh. Tidak cocok dengan cara kerja rezeki. Hanya orang kananlah –yang jumlahnya hanya sekian persen- terbiasa dengan ketidakpastian. Cocok dengan cara kerja rezeki. Pas dan pantaslah jika rezeki lebih berpihak pada orang kanan.

Tahukah Anda, rezeki yang tidak disangka-sangka (tidak pasti), itulah rezeki otak kanan. Tahukah Anda, rezeki yang sudah disangka-sangka (pasti), itulah rezeki otak kiri. Walhasil, kanan itu identik dengan kaya. Kiri itu identik dengan kere. Hehehe! (Untuk lebih memahami otak kanan, cobalah baca kitab _13 Wasiat Terlarang: Dahsyat Dengan Otak Kanan!)

Masih di Lombok. Suatu hari, seorang Amerika bernama Aaron bertemu dengan penduduk detempat bernama Dewa. Mereka pun ngobrol-ngobrol.

Aaron, “Gaji saya $20.000 sebulan.”
Dewa, “kalau saya, Cuma Rp2juta sebulan.”
Aaron, “Cuma segitu? Terus, gimana Anda ngaturnya?”
Dewa, “Anda sendiri, gimana?”
Aaron, “Yah, mudah saja. Gaji $20.000. Maka $10.000 untuk keperluan sehari-hari. $2.500 untuk tabungan. $2.500 untuk asuransi.”
Dewa, “Lha, yang $5.000, ke mana?”
Aaron, “Ah, itu urusan saya. Siapapun tidak boleh tahu. Hm, Anda sendiri, gimana?”
Dewa, “Yah, mudah saja. Gaji Rp2juta. Maka Rp1juta untuk keperluan sehari-hari. Rp500 ribu untuk sekolah anak-anak. Rp500 ribu untuk cicilan motor. Rp500 ribu, untuk rokok.”
Aaron, “Lha, yang Rp500 ribu, dari mana?
Dewa, “Ah, itu urusan saya. Siapapun tidak boleh tahu.”

Hehehe! Mungkin Anda menganggap Dewa itu ngawur dan ngelantur. Namun, tidak sedikit orang Indonesia yang menyikapi rezekinya seperti itu. Bukan satu bulan dua bulan, tapi setiap bulannya!

Sumber: Percepatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter