KONSULTASI PSIKOLOGI: MENGAPA BELUM SUKSES?
Apa yang salah dengan buku itu?
– ZZ di Jakarta
Halo Ibu Leila, saya telah membaca cukup banyak buku bidang self development ke arah kesuksesan hidup. Kata orang kalau membaca buku tertentu dan menghayatinya, hal itu akan berdampak positif terhadap perubahan sikap mental kita. Buku-buku yang pernah saya baca adalah:
The Power of Positif Thinking (Normal V Peale), The Magic of Thinking Big (Dr. Swarch), The Seven Habits of highly Effective People (Stephen R Covey), Unlimited Power (Anthony Robbins), The Road Less Travelled (nama pengarang lupa), Learned Optimisme (Martin Seliaman), How to Win Friends to Influence People (Dale Carnegie), Mindfullness (Ellen J Langer), Mans Search for Meaning (Victor Frankl), See You at The Top (Zig Zaglar), Emotional Intteligence (pengarang lupa), Spiritual Intelligence (tertarik tetapi belum membaca serius), The Sane Society (Erich Fromm), buku tentang Neuto Linguistic Programming: NLP at Work & NLP Solution (Sue Knight), Human Elements (pengarang lupa), Neurosis and Human Growth (Karen Horney), Man for Himself (Erich Fromm), Pyscho Cybernetic (Maxwell Maltz), dan Choice Theory (Willian Glasser).
Satu pertanyaan yang sangat mendasar adalah mengapa setelah membaca buku-buku itu saya belum sukses? Apa yang salah dengan buku tersebut?
Harian _Kompas, 7 Juli 2005
Kesuksesan berbanding lurus dengan valensi kita. Banyak orang berpikir, dengan menambah pengetahuan, secara otomatis valensi kita bertambah sehingga kesuksesan akan lebih mudah diraih. Kenyataannya, pengetahuan hanyalah salah satu faktor pembentuk valensi.
Pengetahuan bisa menjadi masukan berharga dan dapat mendorong peningkatan valensi, tergantung pada “apa yang dilakukan dengan pengetahuan itu”. Anda tidak akan pernah menjadi juara renang kalau hanya duduk di tepi kolom sambil membaca puluhan buku teknik berenang. Memang, tidak mudah mengubah valensi. Tetapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Ingat, bahwa masa depan Anda milik Anda sendiri dan Tuhan tidak akan mengubah nasib Anda kalau Anda tidak mengubahnya sendiri.
Sumber: Buku Kubik Leadership

Komentar Terbaru