Islam, China, dan Perdagangan
Sekarang, saatnya memperluas wawasan. Di negeri ini, setidaknya ada 3 peringatan tahun baru, di mana ketiga-tiganya menanamkan pengaruh yang amat mendalam bagi mereka yang merayakannya, yakni Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Islam, dan Tahun Baru Cina. Kalau menjelang Tahun Baru Islam yang menjadi harapan adalah keberkahan (baca: spiritualitas). Maka menjelang Tahun baru Cina yang menjadi harapan adalah kemakmuran (baca: materialitas). Yah, Simak saja greeting yang mereka ucapkan menjelang tahun baru.
China dan Islam, sepintas keduanya mengusung perbedaan demi perbedaan yang saling bertolak belakang. Kontras. Namun begitu, adakah persamaan di antara Cina dan Islam? Ternyata ada, menurut saya. Kebetulan, saya pribadi selama 9 tahun belajar di sekolah yang mayoritas siswanya adalah orang Chinese. Nah, disinilah Saya mengamati persamaan keduanya, bukan semata perbedaan.
Misalnya saja, keduanya sama-sama:
– berasal dari Timur,
– menghargai agama,
– menghormati leluhur, keluarga, dan orang tua,
– mematuhi suami,
– berhasrat akan ilmu pengetahuan,
– berhasrat akan Simpul Perdagangan,
Tidak diragukan lagi, inilah nilai-nilai dasar yang melekat erat pada keduanya. Kendati kemudian sebagai mulai luntur. Bukan cuma itu. Jarang orang tahu, dahulu kala ternyata hubungan keduanya Cina dan Islam amatlah mesra. Contohnya saja:
– Simpul Perdagangan di jalur Sutra yang melibatkan orang Chinese dan orang Arab secara mendalam.
– Malah, ada pepatah Arab yang berbunyi, ” Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina. ” Meskipun makna sejati dari pepatah ini adalah, “Tuntutlah ilmu walau jauh sekalipun. ” ( Apa yang saya temukan, ini adalah pepatah, bukan hadist seperti perkiraan banyak orang.)
– Yang unik, selanjutnya pedagang-pedagang dari Cina ini membawa masuk agama Islam ke Indonesia bersama-sama dengan pedagang-pedagang dari Timur tengah dan India. Bukan kebetulan, mereka semua lebih dahulu menganut agama Islam.
– Maka muncullah nama Laksamana Chengho, seorang pejuang Islam, dalam sejarah Indonesia.
– Berdiri pula beberapa masjid di Indonesia yang atapnya bersegi delapan.
– Masih di Indonesia, hadir pula kampung Cina yang hampir selalu bersebelah- sebelahan dengan kampung Arab.
– Bahkan baju koko dan kopiah kuku yang jelas jelas asal-usulnya dari China kini ‘resmi’ dianggap sebagai baju muslim Indonesia.
– Konon, beberapa wali songo adalah keturunan Chinese.
Sekadar catatan, adalah VOC dan pemerintah Orde Baru pihak yang paling bertanggung jawab atas terasingnya orang Chinese di Indonesia selama puluhan tahun. Dan asal tahu saja, sampai sekarang pun, jumlah orang Islam di negara Cina kurang lebih sama banyaknya dengan jumlah orang Islam di negara ini. Hanya persentase masing-masing yang berbeda. Sementara di Malaysia, belakangan ini partai orang Chinese dan partai orang Islam setengah bahu membahu demi menyaingi partai yang berkuasa.
Sumber: 7 Keajaiban Rezeki
By: Ippho Santosa

Komentar Terbaru