Harapan Yang Salah

Sekarang bayangkan, Anda ditimpa masalah. Masalah yang sangat besar.
• Tahu-tahu seorang jutawan datang dan berjanji akan membantu Anda dengan kekayaannya…
• Tidak cukup sampai di situ. Seorang ulama datang dan berjanji akan membantu Anda dengan keilmuannya…
• Tambah lagi. Seorang gubernur datang dan berjanji akan membantu Anda dengan kekuasaannya…

Kira-kira, bagaimana sikap Anda? Dibantu oleh tiga orang ini, tentu saja keyakinan Anda melesat dalam memberesi masalah. Motivasi Anda pun meluap-luap. Begitu kan? Padahal…
• Allah telah berjanji akan membantu hamba-hamba-Nya.
• Di mana kekayaan-Nya melebihi kekayaan si jutawan.
• Di mana keilmuan-Nya melebihi keilmuan si ulama.
• Di mana kekuasaan-Nya melebihi kekuasaannya si gubernur.

Nah, menyadari hal ini, mestinya Anda lebih yakin dan lebih termotivasi. Juga Anda lebih menaruh harap kepada Allah ketimbang manusia. Tentu saja boleh –bahkan harus- tolong-menolong sesama manusia. Namun itu hanyalah ‘perantara’ dari Allah. Bukan itu yang utama. Masih ingat istilah kami? Me + God = Enough. Camkan, kalau keyakinan kepada-Nya bertambah, maka motivasi pun turut bertambah. Sebaliknya, kalau keyakinan kepada-Nya melemah, maka motivasi pun turut melemah.

Sumber: Percepaatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter