Ikhlas adalah Default Faktory Setting Anda

Sesungguhnya, dari sononya, manusia sudah dilahirkan dengan default factory setting yang sangat hebat, diberi fitrah yang murni dan ilahi, tapi manusia sendiri pulalah yang senang mendiskonnya sehingga kesempurnaannya menjadi berkurang. Ini akibat berbagai pengalaman hidup dan ketidaktepatan berpikir atau prasangka (judgment), sehingga hidupnya pun menjadi penuh kesulitan. Hal tersebut pun sudah diingatkan dalam Al-Qur’an:

…dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka
(QS. Al Ahzab: 10)

sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran
(QS. Yunus:36)

Oleh karena berbagai “virus” prasangka dan pikiran negatif yang tanpa disadari merasuk ke dalam hatinya, manusia berangsur-angsur lupa (baca: dedek yakin/percaya) akan sifat kesempurnaan yang berupa kebaikan, kelebihan, kekuatan, dan potensi dirinya. Karena law of Attraction (dijelaskan di bagian tiga) terus menghadirkan “bukti nyata akan keyakinan”, akhirnya manusia justru menjadi lebih ingat (baca :yakin/percaya) akan simpan ketidak sempurnaan, seperti keburukan, kekurangan, kelemahan, dan ketidakmampuannya.

Contoh:

Manusia cenderung tidak percaya atau tidak yakin bahwa:
° hidup itu nikmat serta menyenangkan dan karenanya hanya pantas di syukuri
° rezeki sudah diatur cukup dan tidak perlu ada yang kekurangan
° tubuh bisa menyembuhkan dirinya sendiri
° pikiran dan perasaan lebih kuat dari tindakan
° manusia bisa mengubah hidup dengan mengubah pikiran dan perasaannya
° ikhlas (berserah diri) kepada Tuhan itu mudah dan menyenangkan

Manusia cenderung lebih percaya atau yakin bahwa:
° hidup itu susah dan penuh penderitaan
° rezeki itu susah dan selalu tidak cukup
° jika dokter mengatakan “X” tentang kesehatan saya, itu pasti benar “X”
° lebih banyak orang jahat daripada orang baik
° memelihara perkawinan itu susah
° hidup seperti “judi” (dan kita lebih sering kalah)
° ikhlas  (berserah diri) itu susah dan sangat sulit dilakukan

Oleh karena kualitas hidup manusia ditentukan oleh kualitas keyakinannya, kemampuan untuk mengolah software keyakinan kita adalah sangat penting.

Untungnya, “kesempurnaan ” adalah fitrah atau default factory setting manusia sehingga meskipun sempat kacau, semua masih utuh tersimpan di dalam diri kita. Untungnya lagi, karena error-nya hanya “terlupa” (forgot password), yang diperlukan untuk menyempurnakan diri hanyalah dengan “mengingat kembali” (ask For new password) sifat-sifat kesempurnaan itu. Dan yang menakjubkan, ketika lost files kesempurnaan itu berhasil anda temukan lagi lewat search engine yang tersedia, setelah di-restart, komputer hayati anda akan segera running sesuai dengan fitrahnya kembali pada default factory setting nya yang sempurna.

Sumber: Quantum Ikhlas
By: Erbe Sentanu

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter