Benefit #5. Mengajaibkan Hasil, Seajaib-Ajaibnya

Omong-omong soal balasan, seberapa besar sih balasannya? Nah, dalil dan pengalaman kami selama ini menunjukkan balasan 10 sampai 700 kali lipat! Bahkan lebih! Yap, betul-betul ajaib, betul-betul gaib! Makanya diistilahkan Investasi Gaib. Tapi, kadang-kadang kok tidak berasa ya? Begini penjelasannya.

• Kalau garputala yang dipukul, maka gemanya akan kecil, “Ngiiiing!”
• Kalau gong yang dipukul, maka gemanya akan besar, “Gooooong!” Nah, sedekah juga begitu.
• Kalau Anda bersedekah kecil, maka balasannya akan kecil. Hampir-hampir Anda tidak terasa!
• Kalau Anda bersedekah besar, maka balasannya akan besar. Hampir-hampir bikin Anda terpelanting!
• Perlu dicatat di sini, bersedekah kecil atau besar itu bukan soal jumlah rupiah, tapi soal persentase dari pendapatan.
     o Kalau Anda bersedekah 30 persen ke atas? Itu besar.
     o Kalau sekitar 20 persen? Itu sedang.
     o Kalau sekitar 10 persen? Itu kecil.
     o Kalau sekitar 2 persen? Itu kebangeten!

Yang mengenaskan dan mencemaskan, menurut survey nasional Lembaga Demografi FE UI, satu dari dua rumah tangga miskin Indonesia, mengalokasikan 12 sampai 20 persen pendapatannya untuk rokok. Bayangkan, 20 persen untuk rokok! Kalau 20 persen untuk sedekah? Hehehe,alasannya segerobak. Harus ikhlaslah, banyak kebutuhan-lah, jangan berlebih-lebihan-lah. Padahal kalau saja mereka mau merutinkan 20 persen untuk sedekah, kami yakin mereka akan keluar dari kemiskinan. Seketika!

Ah, bersedekah jor-joran begitu, apa tidak memaksakan diri namanya? Itulah ocehan orang kiri. Menurut orang kanan, dalam beramal itu mungkin:
• Awalnya terpaksa.
• Selanjutnya bisa.
• Akhirnya terbiasa.

Percayalah, sedekah perlu latihan. Sedekah banyak juga perlu latihan. Kalau tidak pernah dilatih, nanti sedekah kita segituuuu terus setiap tahunnya! Padahal inflasi sudah berapa setiap tehunnya! Dengan kita bersedekah banyak, itu berarti kita beribadah banyak. Ringkasnya, buatlah malaikat di sebelah kanan itu sibuk dengan nganggur, makan gaji buta. Hehehe!

Anehnya, yang sering terdengar celetukkan seperti ini.
• Tanya, “Mana yang lebih baik, sholat dhuha 2 rakaat atau 8 rakaat?
• Jawab, “Yang 8 rakaat! Lebih banyak lebih baik!”
• Tanya, “Mana yang lebih baik, puasa sunnah 1 hari atau 2 hari?
• Jawab, “Yang 2 hari! Lebih banyak lebih baik!”
• Tanya, “Nah, mana yang lebih baik, sedekah 2 persen atau 10 persen?
• Jawab, “Yang ikhlas!”

Lha, nih orang tidak ngerti matematika atau apa? Aneh! Jelas-jelas, lebih banyak itu lebih baik tho? Secara umum, yah begitu! Namanya,  berlomba-lomba dalam kebaikan. Kalau urusan ikhlas, itu sih sudah standar. Mana ada ibadah nggak pakai ikhlas? Sudah saatnya kita naik ke tingkatan berikutnya: seberapa sering, seberapa banyak. Belum lagi dari segi manfaat. Makin banyak, yah makin baik.

Salah satu turunan Adam paling kesohor di muka bumi ini, Chow Yun Fat, bertekad bersedekah 99 persen. Sementara itu, salah satu turunan Adam paling makmur di muka bumi ini, Warren Buffet, juga bertekad bersedekah 99 persen. Bukan Cuma itu. Warren Buffet pun ‘menghasut’ hartawan-hartawan lain untuk bersedekah 50 persen. Lalu ikut sertalah Bill Gates, walikota New york, dan puluhan orang lainnya. Lha, kita sedekah 10 persen saja, tapi ngomong ikhlas sampai mulut berbuih-buih! Nggak malu apa? 

Coba deh perhatikan, mana ada orang berseru, “Sholatlah yang ikhlas. Puasalah yang ikhlas. Bacalah kitab suci yang ikhlas.” Tidak ada kan? Kenapa? Yah, karena bocah-bocah yang masih ingusan pun tahu, nenek-nenek yang sudah ubanan pun tahu, semua ibadah mesti pakai ikhlas, termasuk sedekah. Kami ulangi, sudah saatnya kita naik ke tingkatan berikutnya: Seberapa sering, seberapa banyak.

Pegang kata-kata kami. Apabila Anda ingin betul-betul mengajaibkan hasil, maka lipatgandakan sedekah Anda. Lipatgandakan, bukan tingkatkan. Niscaya itu akan mengajaibkan kehidupan Anda, seajaib-ajaibnya! Bahkan itu akan terasa sebelum Anda selesei membaca buku ini! Yakinlah!

Yap, mengajaibkan hasil! Entah itu berupa uang, peluang, kesehatan, ketentraman, urusan, umur, atau seumpamanya. Alhamdulillah, dengan segala kerendahan hati kami telah membuktikan di mana pendapatan bersih kami naik setiap tahunnya, bukan puluhan persen, tapi ratusan persen! Belum lagi dari segi kesehatan, kemudahan-kemudahan, dan impian-impian.

Bagi orang kiri, kalau mau bersedekah, sukanya mikir berlama-lama. Repot kan? Repotnya lagi, kalau sudah bersedekah, malah kepikiran. Apalagi kalau sedekahnya besar-besaran. Beda jauh dengan orang kanan. Bagi orang kanan, sukanya action-oriented. Kalau mau bersedekah, yah bersedekah saja, Kalau sudah bersedekah, tidak pernah kepikiran. Bahkan setelah bersedekah besar-besaran sekalipun.

Besar harapan kami, kelak kekayaan seseorang bukan lagi diukur dari jumlah omzetnya. Bukan dari jumlah asetnya. Bukan dari jumlah karyawannya. Melainkan dari jumlah sedekahnya. Dari jumlah pesantrennya. Dari jumlah anak asuhnya. Nah, ini baru namanya kaya beneran! Kalau sudah begini, maka segenap yang ada di bumi dan di langit pun akan memuliakannya.

Ingatlah, sejauh-jauhnya bangau terbang, akhirnya jadi kecap juga. Sejauh-jauhnya orang berdagang, akhirnya almarhum juga. Hehehe!

Sumber: Percepatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter