8. TIDAK ADA SATU PUN DALIL YANG MELARANG BERHARAP

Kembali soal mafia tadi. Suatu hari, ia menculik seorang anak dan melarikan anak tersebut dengan sebuah sedan. Dalam perjalanan, karena ingin pipis, si anak pun memohon kepada si mafia.

Si anak, “Om, tolong berhenti bentar dong. Aku kebelet pipis.”
Si mafia, “Ah, itu perasaan kamu saja. Ntar juga hilang.”
Lima menit kemudian, si anak kembali memohon, “Kebelet niiih!”
Si mafia, “Sudahlah, itu perasaan kamu saja. Ntar juga hilang.”
Sepuluh menit, lagi-lagi si anak memohon, “Om, beneran niiiih!”
Si mafia, “Diamlah, itu perasaan kamu saja. Ntar juga hilang.”

Sekitar setengah jam kemudian, terciumlah bau pesing.
Si mafia, “Kok bau pesing? Kamu kencing, ya?”
Si anak, “Ah, itu perasaan Om saja. Ntar juga hilang.”

Hehehe! Begitulah, kalau kita berharap dan memohon kepada manusia, kita sering kecewa. Akan jauh berbeda kepada Allah.

Di bagian terakhir ini, tolong digarisbawahi tebal-tebal, tidak ada satu pun dalil yang melarang kita untuk berharap kepada Allah. Sama sekali tidak  ada! Sebaliknya, seluruh dalil malah menyuruh kita untuk berharap kepada Allah! Inilah yang namanya berniaga dengan Allah!
• Jika kita berharap balasan dunia, maka kita akan mendapatkan balasan dunia. Mungkin tidak tersisa lagi balasan akhirat.
• Tapi, jika kita berharap balasan dunia dan akhirat, maka kita akan mendapatkan balasan dunia dan akhirat (QS 2: 200-202, QS 28: 77). Nah, yang terbaik adalah berharap balasan dunia dan akhirat. Layaknya berdoa selamat dunia dan akhirat.
• Bukankah sebaik-baiknya berharap adalah berharap kepada Allah? Justru ada pahala di sana.
• Bukankah Allah menyukai orang yang berharap dan bergantung kepada-Nya?
• Bukankah Allah malah memurkai orang yang tidak mau berharap kepada-Nya?
• Lha, kalau kita tidak boleh berharap kepada Alah, lantas kita mau berharap sama siapa lagi? Masak mau berharap sama tuyul? Yang benar saja!
• Jangan sampai kita malah menempatkan Allah sebagai  ‘harapan terakhir’ alias ‘pemain cadangan’. Justru semestinya kita menempatkan Allah sebagai ‘tumpuan harapan’ alias ‘pemeran utama’. Kebetulan, ini semua kami istilahkan dengan Me + God = Enough.
• Mungkin, selama ini kita menaruh harap berlebihan kepada manusia. Saran kami, coba kurangi. Cukuplah kita menaruh harap kepada Allah. Sekali lagi, Me + God = Enough.
• Sekarang, bagaimana dengan Anda? Masih tidak mau berharap kepada Allah?

Ringkasnya, Allah-lah yang telah mendidik manusia untuk berharap balasan Allah. Jadi, adalah wajar apabila manusia berharap balasan tersebut. Tentu, ini bukan sekadar dari balasan, melainkan Piagam Tertinggi. Soalnya piagam ini berasal dari Zat Yang Maha Tinggi, yang ianya mungkin berupa kenikmatan di dunia maupun di akhirat. Untuk lebih jelasnya, jangan lewatkan Investasi Gaib dan Koin Keberuntungan.

Supaya Persalinan Jadi Lancar…

Sekadar berbagi pengalaman tentang berharap dalam beramal. Ketika istri saya hamil, selain rutin ke dokter kandungan, ia mengikuti senam ibu hamil, membaca buku-buku tentang kehamilan, dan bertanya-tanya kepada ibu-ibu lainnya. Itulah usaha. Di samping berusaha, kami juga berdoa –layaknya pasangan-pasangan lain – agar persalinanya lancar-lancar saja dan anaknya sehat-sehat saja.

Tidak cukup sampai di situ. Harapan, impian, atau hajat ini kami ‘beli’ dengan amal. Istri saya memperbanyak membaca Surat Maryam. Entah berapa kali setiap harinya. Saya pun memperbanyak memutar MP3 Surat Maryam saat beraktivitas, bahkan menjelang tidur, sampai tertidur. Ketika saya dan istri saya masuk ruang persalinan pukul sekitar 23.15, hari Jumat, ibu dan mertua saya turut ‘membelinya’ dengan zikir dan Al-Fatihah dari luar.

Menurut analisa dokter, si bayi baru lahir dua sampai tiga jam lagi. Itu artinya hari Sabtu, dini hari. Alih-alih memikirkan itu, saya malah membisik istri, “Tenang saja, Insya Allah Cuma beberapa menit.” Kenapa begitu? Pertama, saya ingin persalinan ini berlangsung sangat cepat. Kedua, saya ingin si anak lahir pada hari Jumat walaupun Jumat Masehi. (Soalnya Jumat Hijriah sudah lewat.)

Bukannya saya mendahului dokter. Bukannya saya mendahului takdir. Justru karena saya yakin kepada allah. Bagi-Nya tidak ada yang mustahil, semua serba mungkin. Ternyata benar! Hanya dengan 4 kali ngenden, si anak pun lahir tepat pukul 23.50 hari Jumat. Tepat setelah mertua saya membacakan Al-Fatihah untuk ke-100 kalinya! Subhanallah! Si dokter pun bergumam, “Andai saja semua persalinan seperti ini.”

Kebetulan, jumlah cucu ibu dan mertua saya sudah sembilan, laki-laki semua. Inilah cucu perempuan mereka yang pertama. Terlepas dari itu, saya pun mengharapkan anak perempuan. Sampai-sampai saya hanya mempersiapkan nama perempuan, tidak ada nama laki-laki. Namnya, Malaika Khadija.

Selang beberapa hari, saya coba ‘menemukan’ jam kelahiran anak saya, 23.50 di kitab suci. Tepatnya, surat ke-23 dan ayat ke-50. Entah kebetulan atau tidak, isinya tentang Maryam! Yang jelas, demi harapan, impian, atau hajat yang satu ini, kami ‘membelinya’ dengan usaha, doa, dan amal. Ya berharap, ya beramal. Dengan segala kerendahan hati, mudah-mudahan kisah ini dapat menjadi hikmat buat kita semua.

Supaya Orang Datang Berbondong-Bondong…

Hampir seluruh seminar kami, inisiatifnya dimulai dari EO setempat. Kemudian mereka mengundang kami dan meng-organize seminar kami, termasuk penjualan tiket. Pagi itu di Padang, tiket seminar yang terjual baru 12 lembar. Tahu-tahu siangnya pas acara, tiket seminar terjual 200 lembar! Malam itu di Makassar, tiket seminar yang terjual lebih dari 300 lembar! Subhanallah, entah berapa kali hal-hal seperti ini terjadi!

Sebagai pembicara, pastilah kami ingin seminar kami sangat ramai – didatangi orang berbondong-bondong. Maka inilah rahasia yang kami bisikkan kepada EO, “Sempurnakn ikhtiar, visualkan jumlah peserta, tingkatkan sholat dhuha, dan bacalah Surat An-Nasr.” Surat An-Nasr, apa bunyinya? “Apabila telah datang pertolongan allah dan kemenangan, maka engkau melihat manusia berbondong-bondong memasuki jalan Allah.” Itulah rahasianya!

Dan anda boleh mencobanya agar konsumen datang berbondong-bondong ke usaha atau acara Anda. Hm, adakah syaratnya? Tentu saja ada! Anda harus mengajak orang menuju jalan allah, bukan sekadar usaha, bukan sekadar acara. Ringkasnya, Anda menawarkan sesuatu yang mendekatkan orang kepada Allah. Dengan begitu, bolehlah anda berharap allah menurunkan pertolongan dan menggerakkan orang datang berbondong-bondong.

Lagi-lagi, demi sebuah harapan, impian, atau hajat, kami ‘membelinya’ dengan usaha, doa, dan amal. Ya berharap, ya beramal.

Apa Kata Mereka Tentang 7 Keajaiban Rezeki

“Sewaktu ikut seminarnya pada bulan Juli, saya bersedekah dengan niat ‘mudah-mudahan istri saya hamil’. Terus, selama Ramadhan, saya rutinkan Persai Langit dan baca Al-Quran. Alhamdulillah, September ini istri saya sudah hamil dua bulan! Padahal bukunya selesei saya baca!”

Maman Sulaeman, Yogyakarta
“Dengan izin Allah, 30 hari sesudah menerapkan isi buku ini, akhirnya saya bisa punya bisnis baru, persiiiiisss seperti yang saya dan kedua bidadari khayalan! Seminggu kemudian, setelah 7 tahun penantian panjang, Allah mendatangkan rezeki buah hati dengan cara yang tak terduga! Bagi saya, ini adalah buku percepatan!”

Nuha Uswati, Owner TK Khalifah Banten
“Beli bukunya April 2010. Langsung saya ‘paksa’ mantan saya untuk baca halaman 40. Alhamdulillah, Juli 2010 kami menikah!”

Ridha, TK Primagama, Purwokerto
“Alhamdulillah, saya dapat calon bidadari kedua setelah minta doa bidadari pertama.”

Sai Husaini Abidzar, Banjarmasin
“Membaca buku ini menubah pikiran saya 97 persen! Dulu saya takut menikah. Sampailah pasangan saya memberikan buku ini, yang membuat saya siap menikah!”

Fitri, Jakarta
“Sangat-sangat fenomenal! Kemampuan saya meningkat 1000 persen!”

Abdul Malik, Falisha Collection
“Alhamdulillah, apa yang saya cita-citakan satu per satu terwujud! “

Chandra Nugraha
“Speechless! Kudu, harus, mesti, fardhu ‘ain punya buku ini! Kalau gak, nyesel tujuh turunan!”

Eka Utama Kusuma Rustandi
“It’s a must-read book for everyone!”

Marisha A, mantan staf di Deutsch Ministry of Foreign Affairs
“Allau akbar! Pertemuan dengan Mas Ippho dan buku ini membawa berkah tersendiri bagi saya. Saya pun langsung memantaskan di hadapan Allah.”

Sumber: Percepatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter