Memantaskan Diri
Selanjutnya, saya ingin menyampaikan satu kisah nyata. Tentang Dee. Ketika dipertemukan dengan beberapa pilihan, Dee sempat bingung. Urusan jodoh nih! Siapapun pasti menginginkan jodoh yang lebih baik, termasuk Dee. Terus, apa yang ia lakukan? Pertama-tama, ia lapor dulu (baca:memohon) kepada Yang Maha Menilai. Kedua, karena menginginkan jodoh yang lebh baik, maka ia pun mulai memperbaiki diri. Inilah yang disebut dengan memantaskan diri. Yah, buka sekedar memantaskan diri. Tapi, memantaskan diri di hadapan Yang Maha Menilai.
Maka:
1.ibadah A ia tingkatkan
2.ibadah B ia lipatgandakan
3.ibadah C ia rutinkan (sebelumnya, jarang-jarang)
4.ibadah D ia rutinkan (sebelumnya, hampir-hampir tidak pernah)
Alhamdulillah, puji syukur, hanya dalam waktu beberapa bulan setelah meingkatkan ibadah, ia bertemu dan saling tertarik dengan seorang gadis yang sudah bertahun-tahun melakukan dan meningkatkan:
1.ibadah A
2.ibadah B
3.ibadah C
4.ibadah D
Bukankah Dia telah berjanji, “Ynag baik-baik adalah untuk yang baik-baik. Dan begitu pula sebaliknya. ” Kurang-lebih, yah begitu (QS. 24:26). Jadi, kalau Anda menginginkan pasangan yang lebih baik? Yah, perbaiki diri, pantaskan diri. Dengan demikian, mudah-mudahan Dia akan mempertemukan Anda dengan seseorang yang pantas untuk Anda. Sejenak, coba deh Anda tanya-tanya pada diri Anda sendiri:
1.Apa Anda sudah betul-betul memperbaiki diri?
2.Apa Anda sudah memantaskan diri di hadapan-Nya?
3.Apa Anda lebih sibuk memantaskan diri dihadapan manusia?
4.Bagi laki-laki, apa Anda sudah pantas menjadi imam?
Sering kali, kita menginginkan jodoh yang lebih baik, tapi sayangnya, kita sendiri malas memperbaiki diri. Kita sendiri malas memantaskan diri. Lha, apa mungkin kita mendapatkan jodoh yang lebih baik? Sepertinya sih, kecil kemungkinannya. Atau, begini. Bukan mustahil jodoh kita itu nilainya 8. Namun, kita itu nilainya masih 6. Bisa jadi, karena itulah, Dia belum mempertemukan kita dengan jodoh kita. Yah, belum pantas, menurut-Nya.
Sebenarnya, ini bukan semata-mata urusan jodoh. Ini juga berlaku untuk urusan keturunan, pergaulan, mitra usaha, dan lain-lain.
1.Mau keturunan yang baik-baik?
2.Mau pergaulan yang baik-baik?
3.Mau mitra usaha yang baik-baik?
4.Yah, perbaiki diri terlebih dahulu.
5.Jadi, kata kuncinya adalah perbaiki diri, pantaskan diri, luruskan niat hanya untuk-Nya, dan berbaik-sangka kepada-Nya.
Kembali ke Dee. Tidak ketinggalan, Dee juga menggabungkan adab doa dan hukum LOA, agar impian bertemu jodohnya itu terwujud dalam waktu yang jauh lebih cepat.
1. Ia membayangkan, berpura-pura seolah-olah itu sedang terjadi, dan terus berpura-pura sampai itu benar-benar terjadi. Ini dia konkretkan dengan membuat undangan akad nikah pada template SMS, membeli ranjang ukuran double, mempercantik taman dirumah, dan lain-lain. (Pst, padahal waktu itu ia belum tahu siapa gadis itu!)
2. Ia menetapkan kapan impian itu akan terjadi dan memperjelas semuanya. Ini dia konkretkan dengan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar bertemu dengan jodohnya pada bulan X dan menikah pada bulan Y.
3. Alhamdulillah, puji Tuhan, dalam waktu singkat, dalam waktu kurang dari 6 bulan, pertemuan pada bulan X dan pernikahan pada Y itu benar-benar terjadi!
Orang-orang sering bilang, “Jodoh itu ditangan Tuhan.” Sambil bergurau saya balas, “Itu betul. Dan jodoh itu akan tetap di tangan Tuhan, selagi kita tidak berusaha mengambilnya.” Apa yang diajarkan oleh guru-guru saya, selain lebih membuka pintu rezeki, menikah itu akan menggembleng kita untuk lebih sabar, lebih bertanggung jawab, dan lebih mampu memimpin. Yah, mudah-mudahan.( Oya, hampir kelupaan. Kebetulan, Dee itu adalah saya sendiri, Ippho Santosa).
Sumber : 7 Keajaiban Rezeki
By Ippho Santosa

Komentar Terbaru