8 ALASAN UNTUK TIDAK MISKIN

Suatu hari di Sidney, Australia, seorang penjual roti kecil-kecilan didatangi oleh seorang ibu-ibu. Selesei memilih roti, si ibu ingin membayar, namun dicegah oleh si penjual roti. Sambil tersenyum, si penjual roti berujar, “Ambil saja Bu. Anggap saja itu hadiah dari saya.” Si ibu pun senang. Keesokan harinya, si ibu menghadiahkan karangan bunga untuk si penjual roti.

Kemudian, si penjual roti didatangi oleh seorang mahasiswa Indonesia. Selesei memilih roti, si mahasiswa ingin membayar, namun dicegah oleh si penjual roti. Si penjual roti berujar, “Ambil saja, Dik. Anggap saja itu hadiah dari saya.” Si mahasiswa pun senang. Keesokan harinya, apa yang terjadi? Si mahasiswa langsung mengajak rekan-rekan Indonesia lainnya mendatangi si penjual roti. Yah, apalagi kalau bukan berharap roti gratisan! Hehehe!

Kadang, miskin itu bukan hanya soal materi, tapi juga soal mental. Si penjual roti, walaupun secara materi ia belum kaya, namun secara materi ia sudah kaya. Si mahasiswa Indonesia, bisa jadi secara materi ia sudah kaya, tapi secara mental ia belum kaya. Ia masih miskin. Adalah kecelakaan besar apabila seseorang sudah jatuh pada miskin materi juga miskin mental!

Kalau miskin, jangan-jangan Anda malah:
• Dizakati dan disedekahi
• Dihajikan dan diumrahkan oleh orang lain
• Susah untuk menuntut ilmu
• Membebani keluarga
• Membebani ekonomi umat
• Menelantarkan sarana umat
• Melemahkan bargaining position umat
• Melemahkan dakwah dan syiar agama

Bayangkan,pemerintah berencana membangun perjudian di kota Anda.
• Apa yang bisa dilakukan oleh orang miskin? Yah, Cuma 2D. Apa itu? Doa dan Demo. Tahukah Anda, ancaman ratusan demonstran terdengar bagaikan angin lalu di telinga pemerintah dan penjudi?

• Apa yang bisa dilakukan oleh orang kaya? Juga 2D. Apa itu? Doa dan Duit. Cukup tiga orang yang kaya menemui walikota dan sedikit menekan, “maaf, Pak. Saya dan teman-teman tidak setuju dengan rencana perjudian ini, Sekiranya perjudian ini diizinkan juga, kami terpaksa menutup bisnis kami di kota ini dan mengalihkan investasi kami ke kota lain.”

• Nah, kata-kata siapakah yang lebih di dengar oleh walikota? Ratusan demonstran atau tiga orang kaya? Tentu saja, tiga orang kaya!

• Lihatlah, apabila digunakan dengan benar, kekayaan itu dapat meningkatkan bargaining position umat. So pratical, so powerful!
Bayangkan lagi, ada ustadz miskin, ada ustadz kaya.

• Ustadz miskin berdakwah, “Pengen sukses? Rutinkan sholat dhuha.”

• Ustadz kaya juga bedakwah, “Pengen sukses? Rutinkan sholat dhuha.”

• Jelas, kata-kata mereka didengar oleh malaikat. Akan tetapi, kata-kata siapakah yang lebih didengar oleh umat? Tentu saja, ustadz kaya! Semestinya sih tidak boleh begitu. Siapapun yang menyampaikan kebenaran, hendaklah didengarkan dan ditaati. Namun begitulah umat. Kadang umat lebih memperhatikan siapa daripada apa.

•             Bayangkan orang sekaya Sandiaga Uno berdakwah, “Kalau pengen sukses, rutinkan sholat dhuha,” Wah, kami yakin, keesokan harinya puluhan juta umat –tanpa banyak tanya- langsung sholat dhuha, langsung sujud! Mungkin yang atheis pun ikut-ikutan sujud! Hehehe!

• Dipesankan bahwa berdakwah itu sesuai bahasa kaumnya. Lha, apa bahasa kaum zaman sekarang? Yah, apalagi kalau bukan kekayaan!

• Lihatlah, apabila digunakan dengan benar, kekayaan itu dapat memudahkan dakwah dan syiar agama. So practical, so powerful!

Sumber: Percepatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter