Benefit #8. Tidak Harus Ikhlas

Terakhir, siapa bilang sedekah itu harus ikhlas? Siapa bilang? Memang, idealnya seluruh ibadah harus ikhlas. Termasuk sedekah. Namun demikian, kalau awal-awal belum ikhlas, yah tidak apa-apa. Hitung-hitung latihan. Nanti lama-lama juga ikhlas, insya Allah. Tentu, ikhlaslah yang dijadikan tujuan. Right?

Seperti biasa, orang kanan menyukai sesuatu yang simple dan action oriented. Katakanlah, Anda belum ikhlas . Namun Anda berusaha untuk ikhlas dan tetap bersedekah, itu jauh lebih baik. Daripada menunggu ikhlas dulu, baru bersedekah. Woi, kelamaaaaan!

Coba deh nguping percakapan berikut…
“Pak, mohon sedekahnya. Saya kelaparan.”
“Ntar deh. Sekarang hati saya belum ikhlas.”
“Waduh, tolonglah Pak. Saya hampir sekarat nih!”
“Yah, gimana lagi. Hati saya belum ikhlas. Ntar sedekah saya jadi sia-sia.”

Beginilah orang kiri. Menunggu lebaran monyet dulu, baru bersedekah. Celakanya, si pengemis bisa keburu mati! Celakanya lagi, si orang kiri juga bisa keburu mati! Sebelum sempat beribadah, sebelum sempat bersedekah!

Acap kali orang kiri berdebat soal ikhlas, sampai-sampai tidak jadi beribadah, tidak jadi bersedekah. Dalilnya, “Daripada tidak ikhlas? Kan nanti sia-sia.” Atau bersdekah sedikit. Dalilnya, “Biar sedikit asal ikhlas.” Lha, apa yang mau diikhlasin? Sedikit! Hehehe! Tambahan lagi, memangnya orang-orang yang bersedekah banyak itu tidak ikhlas apa? Mereka juga ikhlas kok! Lagi pula, kami berpendapat, selagi orang itu masih ada iman di hatinya, pastilah masih ada ikhlas di hatinya, walaupun tidak seberapa.

Sekadar catatan, sorry nih, menurut guru kami, perdebatan soal ikhlas itu hanya untuk para pemula. Bagi para ahli sedekah, yah ikhlas itu sudah otomatis. Para ahli sedekah berusaha naik ke tingkatan berikutnya: seberapa sering, seberapa banyak. Mudah-mudahan kita termasuk yang beginian. Bukannya malah komat-kamit berdebat soal ikhlas, tapi nggak  action-action!

Kesimpulannya, tetaplah bersedekah, entah sudah ikhlas atau belum ikhlas. By the way, kita tahu dari mana kita sudah ikhlas atau belum ikhlas? Hanya Dia Yang Maha Mengetahui. Jadi, tetaplah bersedekah, karena kita sendiri tidak tahu ikhlas sejati itu seperti apa. Kita Cuma bisa ‘berusaha untuk ikhlas’. Cuma itu.

Taruhlah Anda bersedekah dengan tidak ikhlas. Betul-betul tidak ikhlas. Konon, sedekahnya itu sendiri tidak dihitung sebagai pahala. Tapi, mudah-mudahan uang sedekah itu masih dihitung sebagai pahala. Kok bisa? Misalnya, uang sedekahan itu dibelikan kursi-kursi dan meja-meja. Terus, kursi-kursi dan meja-meja itu dipakai. Kan bermanfaat? Nah, mudah-mudahan itu menjadi amal jariyah. (Asalkan Anda masih punya iman.)

Lantas, bagaimana dengan riya (pamer)? Bersedekah dan riya, itu sih sudah biasa. Walaupun itu jelas-jelas tidak baik. Tapi ada juga nih, sudahlah tiak bersedekah, riya lagi! Bahkan fitnah lagi! Lho, kok bisa? Begini ceritanya. Dengar deh percakapan dua orang berikut ini dalam sebuah event.

“Tadi ada kesempatan bersedekah bareng-bareng, kok tidak ikutan, Mas?
“Ah, daripada dianggap riya sama orang-orang, mending nggak usah bersedekah saja sekalian!”
“Gitu, ya? Padahal itulah riya.”
“Riya gimana? Wong, saya nggak bersedekah!”
“Kalau melakukan amal sholeh karena memikirkan pendapat orang lain, itulah riya. Riya yang besar.”
“Terus?”
“Kalau tidak jadi melakukan amal sholeh karena memikirkan pendapat orang lain, itu juga riya. Kan supaya dibilang tidak riya sama orang-orang. Yah, itulah riya. Kan supaya dibilang tidak riya sama Mas. Ini juga pendapat seorang syeikh dari Madinah.”
“Segitunya?”
“Iya. Artinya juga, Mas lebih mengutamakan pandangan orang daripada pandangan Allah.”
“Hm, mungkin ada benarnya juga.”
“Bahkan, ada lagi nih. Sudah tidak bersedekah, eh malah memfitnah. Lantaran, langsung menuduh orang-orang yang bersedekah bareng-bareng itu riya. Padahal tahu dari mana niat orang-orang?”
“Jadi, baiknya?”
“Terang-terangan atau diam-diam, bareng-bareng atau sendiri-sendiri, tetap saja bersedekah. Pelihara niat. Kalaupun ada terlintas perasaan macam-macam, yah sudah, istighfar saja.”

Memang, sedekah terang-terangan berpotensi menimbulkan riya (pamer). Tapi jangan lupa, sedekah diam-diam juga berpotensi menimbulkan ujub (bangga diri). Yang dilarang itu bukan terang-terangan atau diam-diamnya. Yang dilarang itu riya dan ujubnya. Jadi, tetaplah bersedekah dan berusahalah untuk ikhlas. (Ada juga yang sedekah diam-diam, karena takut ketahuan. Ketahuan sedekahnya sedikit! Hehehe!)

Lebih jauh lagi, sedekah diam-diam punya keutamaan tersendiri. Sedekah terang-terangan juga punya keutamaan tersendiri. Ini bisa menjadi penyemangat, syiar, dan dakwah bagi yang lain. Toh, ada lima ayat yang membolehkan. Para sahabat pun pernah melakoni. Ringkasnya, boleh sedekah diam-diam. Boleh juga sedekah terang-terangan. Yang tidak boleh itu, terang-terangan tidak bersedekah! Hehehe!

Sumber: Percepatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter