MARI PERBANYAK EPOS
Bila kita menanam bunga bangkai, dari pohon yang sama tidak mungkin kita memanen durian. Oleh karena itu, tugas kita yang utama adalah menanam dan menebar epos sebanyak mungkin karena pasti akan berbuah kebaikan.
Bila kita ingin menggapai sukses jangka panjang, seyogianya kita memperbanyak epos. Dengan menebar epos, kita akan panen buah positif, seperti kebahagiaan, ketenteraman, dan kenikmatan hidup lainnya. Para penebar epos akan menikmati buah itu secara langsung atau dalam bentuk tabungan energi yang suatu saat akan cair.
Deepak Copra meyakini bahwa semakin banyak kita memberi, kita akan semakin terlibat dalam sirkulasi energi alam semesta, dan akhirnya akan semakin banyak menerima, baik dalam bentuk cinta, materi, atau kebetulan. Menurutnya, uang tidak bisa membuat dunia berputar, kecuali bila digunakan untuk memberi sebanyak yang diterima.
Merck adalah perusahaan farmasi yang mendefiniskan kesuksesan bisnis-bisnisnya sebagai “kemenangan melawan penyakit dan membantu sesama manusia”. Merck pernah memproduksi obat meetizan, suatu obat yang menyembuhkan penyakit ”river blindness” yang menginfeksi jutaan manusia di dunia ketiga. Walaupun tahu bahwa para penderita tidak mampu untuk membelinya. Merck tetap memproduksinya dan bahkan akhirnya membagikannya secara cuma-cuma. Merck juga mendistribusikan sendiri obat tersebut kepada para penderita.
Pada akhirnya perang dunia kedua, Merck datang ke Jepang untuk membawa obat streptomycin dalam rangka memerangi penyakit tuberculosis yang menyerang masyarakat Jepang. Merck tidak memperoleh laba saat itu. Tapi lima belas tahun kemudian, Merck menjadi perusahaan farmasi terbesar di Jepang. Di dunia, Merck juga secara konsisten mengalahkan pasar sebagai perusahaan yang membukukan laba besar, tumbuh hampir $6 miliar dalam laba dan mengalahkan pasar lebih dari 10 kali dari tahun 1964 sampai 2000. Epos yang ditabung oleh pemilik Merck telah cair.
Demikian pula jika kita menebar banyak energi negatif, bersiaplah untuk menuai ketidakbahagiaan, ketidaktenteraman, dan penderitaan hidup. Pepatah mengatakan, siapa yang menebar angin dia akan menuai badai. Begitupun bila kita menebar energi negatif, kita akan memperoleh hal-hal negatif secara langsung atau di kemudian hari.
Berlakunya energi negatif dapat kita lihat secara kasat mata. Contohnya, seseorang yang sering menyakiti, merendahkan atau menghina orang lain pasti hanya punya sedikit teman. Dia dibenci banyak orang, dan mungkin didoakan buruk oleh orang lain. Bahkan, ketika sudah meninggal pun kejelekan dan keburukannya masih dibicarakan banyak orang. Bahkan, ia mungkin dijadikan contoh kejelakan, seperti Karun yang menjadi contoh orang serakah dan tamak dengan harta. Hiler yang menjadi contoh penjahat perang sadis. Sedangkan, Malin Kundang adalah contoh anak durhaka.
Jangan sekali-kali Anda menanam atau menebar energi negatif. Jangan pernah Anda merasa aman karena menganggap tabungan energi negatif akibat perbuatan masa lalu tidak mencair. Sebaliknya jangan pernah merasa sedih ketika epos yang kita keluarkan belum berbuah balasan sepadan. HKE tidak akan pernah ingkar janji, sebagaimana pastinya hukum alam yang lain. Semua perbuatan positif atau negatif suatu saat pasti akan kita dapatkan balasannya.
Saya ajak Anda menyimak kisah berikut:
Suatu ketika seorang pemuda berjalan di tengah hutan. Tiba-tiba ia mendengar jeritan orang minta tolong. Dilihatnya seorang pemuda sebaya dengan dirinya hampir tenggelam dalam lumpur. Dengan sekuat tenaga ia kemudian memberikan pertolongan, dan pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan. Lalu diantar pulang ke rumahnya.
Ayah pemuda yang ditolongnya, seorang bangsawan, sangat berterima kasih, dan kemudian memberinya uang. Tapi pemuda penolong menolak halus pemberian itu. Ia berkata, “Sudah selayaknya manusia menolong orang lain yang mengalami kesulitan.” Sejak kejadian itu mereka menjalin persahabatan.
Pemuda penolong adalah pemuda miskin. Tapi ia bercita-cita jadi seorang dokter. Keinginan itu terwujud karena ayah pemuda yang ia tolong mau memberi beasiswa. Pemuda miskin itu bernama Alexander Fleming, yang kemudian terkenal sebagai penemu obat Penisilin.
Di tempat lain, pemuda bangsawan itu menjadi seorang tentara. Dia terluka parah di sebuah medan tempur. Lukanya kemudian mengalami infeksi dan membuatnya menderita demam tinggi. Ketika itu belum ada obat untuk infeksi. Tapi dokter yang merawat akhirnya mencoba menyuntikkan Penisilin temuan baru Alexander Fleming. Apa yang terjadi? Berangsur-angsur demamnya reda dan pemuda bangsawan itu sembuh. Dialah Winston Churchil, salah satu Perdana Menteri Inggris yang terkenal.
Pada kisah tersebut kita lihat bahwa epos yang dikeluarkan oleh manusia mengalir dari satu tempat ke tempat lain. Namun, akhirnya epos itu kembali ke orang yang menebarkannya pertama kali. Kebaikan akan berbuah kebaikan.
Sumber: Kubik Leadership

Komentar Terbaru