BAB 1 KUBIK LEADERSHIP
There is no passion to be found in playing small-in settling for a life that is less than what you are capable of living.
-NELSON MANDELA-
”Saya sudah bekerja dengan maksimal, tetapi hidup saya tetap tidak menjadi lebih baik.”
“Saya bekerja semakin keras setiap harinya, tetapi pekerjaan itu seakan tidak pernah habis. Saya benar-benar sudah tidak tahan lagi!”
“Atasan saya tidak suka dengan saya. Sistem jenjang karier di perusahaan saya tidak adil. Saya rasa ini merupakan akhir dari karier saya.”
“Saya tidak yakin akan kemampuan diri saya. Saya bahkan tidak tahu apa yang bisa dibanggakan dari diri saya.”
“Saya tahu bahwa saya bisa menjadi lebih baik, hanya saja saya tidak tahu bagaimana caranya.”
“Rumah tangga saya tidak seperti dulu lagi. Semua harapan dan keceriaan seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada lagi kehidupan di rumah saya.”
“Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup saya, saya merasa bingung dan kehilangan arah.”
“Apa mungkin orang seperti saya bisa berhasil?”
Ucapan-ucapan seperti itu bisa jadi adalah bisikan lisan Anda; keluhan hati Anda; atau suara-suara lirih yang sering terdengar dari lorong-lorong ruang perkantoran, dari bilik kamar di rumah-rumah. Bahkan bisa jadi, itulah rintihan yang menyelinap dari keheningan rumah ibadah. Saya sendiri hampir setiap hari mendengar suara serupa di ruang kelas selama bertahun-tahun saya menjadi pelatih dan konsultan pengembangan sumber daya manusia.
Kita sering ragu akan kemampuan diri sendiri untuk membuat perubahan. Jangankan membuat perubahan untuk lingkungan, membuat perubahan dalam hidup kita sendiri pun kita merasa tidak mampu. Kita merasa terperangkap dalam segala keterbatasan. Kata “sudah nasib” kemudian menjelma jadi kambing hitam untuk kehidupan yang tidak pernah kita miliki.
Sebagian orang memang kemudian memiliki keyakinan untuk mampu melakukan perubahan, entah setelah mereka membaca buku motivasi atau mengikuti seminar. Namun, keyakinan selama mereka hanya terdiam, tidak melakukan apa-apa. Sebagian lagi kemudian bergerak menghidupkan aksinya. Tak lama kemudian hancur karena pekertinya rusak, atau karena energi hidupnya lemah.
Di sinilah kita sering kali lupa bahwa kita adalah manusia, makhluk Tuhan yang paling sempurna. Dalam diri kita ada sebuah kemuliaan itu seakan-akan hanya mitos yang enak didengar saat kita mengikuti kuliah agama, dan tidak mewujud dalam kehidupan kita sehari-hari. Kemampuan melakukan hal-hal besar seolah hanya milik orang lain, yakni orang-orang pilihan yang tak terjamah tangan kita.
Sebelum Anda melanjutkan, saya ajak Anda untuk merenungkan apa sesungguhnya yang Anda inginkan dalam hidup Anda. Bacalah dan jawab dalam hari pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
Hidup ini singkat.
Jadi berikanlah yang terbaik.
Bagaimana Anda jalani hidup Anda selama ini?
Bagaimana jika Anda bisa lebih bahagia?
Bagaimana jika Anda bisa lebih sukses?
Bagaimana jika Anda bisa lebih dicintai?
Jika Anda bisa menjadi orang luar biasa
Kenapa Anda berhenti berusaha
Dan puas jadi orang biasa?
Dalam hidup Anda,
Apa yang Anda inginkan?
Apa yang Anda banggakan?
Ketika jasad Anda telah berselimut tanah,
Bagaimana orang lain akan mengingat Anda?
Bagaimana jika sesungguhnya,
Anda ditakdirkan hidup lebih baik?
Kebanyakan orang tidak pernah tahu
Jadi,
Hidup seperti apa yang Anda pilih?
Anda bisa meraih kesuksesan dan kemuliaan hidup. Kesuksesan ditandai dengan tingginya nilai 4-TA (harta, takhta, kata, cinta) dalam hidup Anda, sedangkan kemuliaan ditandai dengan besarnya nilai manfaat yang mampu Anda berikan untuk lingkungan sekitar Anda. Semua kekuatan yang dibutuhkan untuk meraihnya sudah ada di dalam diri Anda, sudah Anda miliki. Sekarang waktunya bagi Anda membangunkan kekuatan itu! Mari kita raih kesuksesan dengan menciptakan prestasi-prestasi besar yang melegenda. Mari kita berjalan di atas muka bumi ini sebagai manusia mulia yang senantiasa bermanfaat dan dirindukan kehadirannya.
Sumber: Buku Kubik Leadership

Komentar Terbaru