ENERGI MANUSIA MEMILIKI UNSUR KUALITATIF
Manusia sebagai mikrokosmos adalah makhluk spesial. Berbeda dari makhluk-makhluk lain karena manusia diberi jiwa (soul).Soul itulah yang melahirkan kebebasan bagi manusia untuk berkehendak (freewill). Makhluk Tuhan lainnya dalam makrokosmos tidak memiliki freewill. Bintang, gunung, air, batu, tumbuhan, dan hewan tidak memiliki kehendak. Mereka hidup sekadar hanya untuk menjalankan peran dan fungsinya di alam semesta. Kemampuan hewan memilih mangsa atau membuat sarang tidak muncul dari freewill, tapi dari dorongan instingtif yang sudah ditanamkan ke dalam diri mereka sejak lahir.
Dalam makrokosmos, makhluk selain manusia hanya berfungsi sebagai penyalur energi, penyimpan energi atau pengubah bentuk energi. Aktivitasnya adalah murni mekanis. Nilai energinya netral dan bersifat kuantitatif. Perhitungan E = MC dalam aplikasinya pada HKE dan Hukum Kekekalan Massa berhenti hanya pada nilai kuantitatifnya.
Hal ini berbeda dari proses yang terjadi dalam mikrokosmos. Perubahan energi tidak hanya bersifat kuantiatif, tetapi juga kualitatif. Soul yang ada pada manusia berfungsi sebagai “a guiding or directing force” untuk energi manusia. Soul membuat energi bergerak ke arah diinginkannya, namun tetap tidak mengubah total jumlah energinya. Pendapat itu diungkapkan para fisikawan ternama seperti Clerk Maxwell, Tait, Balfour Steward, Lodge, Poynting, yang dimuat pada artikel berjudul “Conservation of Energy and The Human Soul” di New Advent Catholic Encyclopedia.
Sedangkan, menurut filosofi Aristoreles dan Saint Thomas, soul adalah bagian dari makhluk hidup. Itulah sebuah komponen sangat prinsipal yang mampu membebaskan dan membimbing proses transformasi energi yang tersimpan dalam diri makhluk organik (constituents of the material organism). Proses transformasi energi tersebut bernilai kualitatif karena kita sendiri yang dapat menentukan bentuk dan arah energi yang dikeluarkan. Sedangkan, nilai kuantitatifnya adalah bagaimana bentuk dan arah energi yang kita keluarkan, jumlah total input dan output (keluaran) energinya akan sama?
Pada dasarnya energi manusia dapat diarahkan pada dua titik ekstrem, yaitu pada nilai kebaikan atau pada nilai keburukan. Dalam kepercayaan agama islam, Nasrani maupun Yahudi. Tuhan menciptakan surga dan neraka untuk manusia. Bagi mereka yang memilih berada di jalan kebaikan akan mendapatkan surga, dan yang memilih berada di jalan kebaikan akan mendapatkan surga, dan yang memilih berada di jalan keburukan akan mendapatkan neraka. Surga dan neraka adalah konsekuensi tanggung jawab dari kebebasan berkehendak yang dimiliki manusia. Surga dan neraka bukan untuk makhluk Tuhan yang lain karena mereka tidak memiliki apa pun yang harus dipertanggungjawabkan.
Energi pada manusia memang berbeda dari energi pada makhluk lain. Energi makhluk lain bersifat netral, sedangkan energi pada manusia tidak netral. Energi manusia memiliki sifat kualitatif, yang berarti mengandung kualitas kebaikan dan kualitas keburukan. Saya menyebutnya sebagai energi positif (epos) dan energi negatif. Untuk pembahasan selanjutnya dalam buku ini, energi positif kita singkat dengan kata “epos”.
Apa arti nilai kualitatif pada energi manusia? Artinya, jenis energi yang diperoleh dari hasil usaha kita akan tergantung dari jenis energi yang kita usahakan. Apabila kita mengeluarkan epos, kita akan memperoleh epos kembali. Kita bekerja tekun, belajar sungguh-sungguh, menolong orang lain, mendoakan orang lain, memberi senyum, menepati janji, berlaku disiplin, memberi sedekah, dan lain-lain semua itu epos yang kita keluarkan.
Apabila kita mengeluarkan energi negatif, kita akan memperoleh energi negatif kembali. Kita melakukan korupsi, memfitnah orang, berprasangka buruk, berlaku curang, dengki, merendahkan orang lain, menipu, dan lain sebagainya. Semua itu energi negatif yang kita keluarkan.
Kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, persaudaraan, cinta kasih, perasaan bermakna maupun kepuasan batin yang mendalam. Semakin besar nilai kebaikan yang kita peroleh. Jadi, setiap berbuat baik pada orang lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.
Begitupula keburukan yang kita lakukan kepada orang lain pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk kebencian, kedengkian, perpecahan, kegelisahan, dan penderitaan hidup lainnya. Ini juga berarti setiap kita berbuat buruk kepada orang lain, kita sebenarnya juga sedang berbuat buruk kepada diri kita sendiri.
Sumber: Kubik Leadership

Komentar Terbaru