DARI PROFESIONAL MENUJU EXPERT
Jika Anda memilih untuk meraih kesuksesan jangka panjang dengan menjalani hidup berdasarkan motivasi jangka panjang, saya sarankan Anda untuk segera naik kelas dari seorang profesional menjadi seorang Experst.
Profesional berasal dari kata profesi, yang artinya ada suatu pekerjaan spesifik yang untuk mengerjakannya dibutuhkan kemampuan khusus. Sedangkan, kata profesional berarti seseorang yang mendapatkan bayaran untuk menjalankan profesi tersebut. Namun, seorang petinju, walaupun dia seorang yang menekuni bidang tersebut dan menjadi cukup ahli dalam bertinju, tetap disebut sebagai petinju amatir apabila dia tidak mendapatkan bayaran dari aktivitas bertinjunya. Dia baru menjadi seorang profeisonal apabila dia mendapatkan bayaran yang pantas untuk kelas bertinjunya.
Dengan demikian, dari segi motivasi, seorang profesional mengikuti rumus motivasi jangka pendek ( To Be x To Have x Valensi). To Be ditunjukkan dari prestasi pekerjaannya, sedangkan valensi ditunjukkan dari kemampuan yang dimilikinya.
Sebagai profesional, unsur to have masih sangat terasa. Seorang profesional akan mengerjakan sebuah pekerjaan yang dipercayakan kepada dia dengan sangat baik sesuai dengan bayaran yang ia terima. Jika ia memperoleh kesepakatan dibayar Rp10 juta, dia akan melakukan pekerjaan tersebut dengan mengeluarkan energi senilai Rp10 juta dengan baik. Dia tidak akan mengorupsi sedikit pun dan akan memenuhi apa yang menang telah ia janjikan.
Namun demikian, seorang profesional memiliki kelemahan karena unsur to have yang melekat padanya. Mungkin to have -nya tidak akan sampai membuat seorang profesional terdorong berbuat negatid yang akan merusak dirinya. Tetapi, to have -nya bisa menghambat perkembangan to be dan valensi. Penjelasannya adalah ketika seorang profesional melakukan pekerjaan senilai Rp10 juta, senilai itulah besaran energi yang cenderung akan ia keluarkan. Tidak lebih. Walaupun sesungguhnya ia memiliki kemampuan melakukan pekerjaan yang sama dengan kualitas senilai Rp20 juta. Prestasi kerja kita sering kali dibatasi oleh besaran uang yang diterima. Selain itu, sebagai seorang profesional, dia hanya akan mau melakukan pekerjaan-pekerjaan besar apabila bayarannya dianggap sesuai.
Kubik mengajak Anda untuk naik kelas menjadi seorang Expert, yaitu orang yang berorientasi pada pencapaian to be dan peningkatan valensi semata. Dia adalah orang yang terus-menerus ingin menambah prestasi dalam profesinya. Pada saat yang sama ia terus meningkatkan to have yang akan diperolehnya. Baginya, melakukan pekerjaan sebaik mungkin adalah motivasinya. Dia akan merasa sangat puas kalau dari pekerjaan itu dia bisa mendapatkan ilmu atau keterampilan baru.
DARI PROFESIONAL MENUJU EXPERT
PROFESIONAL M = TB X TH X V > EXPERT M= TB X V X 1/TH
Seorang Expert yang bersedia dibayar Rp10 juta untuk sebuah pekerjaan tidak akan membatasi kualitas dan kuantitas pekerjaannya setara dengan nilai bayarannya. Kalau dia mampu melakukan pekerjaan itu dengan kuantitas dan kualitas bernilai Rp20 juta, hal itu akan dia lakukan. Ia melakukannya dalam rangka mengejar to be dan valensi dan mengabaikan to have.
To have pasti akan diperoleh sebagai hasil dari pekerjaannya. Namun, seorang Expert akan menempatkan to have yang didapat sebagai asetnya untuk meraih to be dan valensi yang lebih tinggi. Seorang tokoh bisnis yang saya dipercaya untuk menjadi orang nomor satu di Telkom, Cacuk membuat gebrakan berani, yaitu dengan membuat tujuan yang lebih jelas dan teruktur serta menetapkan target prestasi yang lebih tinggi (meninggikan to be) dan pada saat yang sama menekankan pada peningkatan kapasitas dari seluruh karyawan Telkom (meninggikan valensi). kekayaan Telkom dijadikan aset untuk melakukan pelatihan-pelatihan karyawan, mengirim mereka untuk tugas studi, memperluas jaringan pemasaran serta memperbaiki pelayanan (menjadikan to have sebagai aset). Cacuk telah menjadikan Telkom sebagai BUMN yang mempunyai fondasi kokoh untuk meraih kesuksesan jangka panjang.
Sumber: Kubik Leadership

Komentar Terbaru