APA ITU KUBIK LEADERSHIP?

Saya menggunakan kata  leadership,  bukan  managerialship,  karena setiap manusia pada dasarnya harus terlebih dahulu bisa memimpin dirinya, baru kemudian mengelola hidupnya. Efektif harus mendahului efisiensi. Salah satu sumber kebingungan hidup adalah menempatkan kepemimpinan pada urutan yang salah.

Saya pernah memiliki klien seorang walikota. Ia tipe pekerja keras luar biasa. Ia menjalankan peran  managerialship  dengan kontrol yang ketat dan detail. Semua surat keluar dan masuk ia tangani sendiri, dan hampir setiap hari ia memimpin rapat-rapat teknis bahkan hingga larut malam. Ia turun sendiri dalam mengelola program-program rutin pelayanan masyarakat dan berbagai kegiatan sosial. Semua aktivitas itu menyita begitu banyak waktu dan energi, namun peran kepemimpinannya justru tidak tampil. Ia seperti nahkoda yang menjalankan fungsi kelasi kapal. Dia mengelola semuanya, tetapi dia tidak memimpin.

Terobosan-terobosan strategis dalam pelayanan masyarakat serta pembinaan bawahan yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya menjadi terabaikan. Mesin birokrasi bekerja secara keras tetapi tidak diberi arahan yang benar. Akibatnya, kapal organisasi melaju tanpa strategi. Para kelasi kapal yang kelelahan lupa apa alasan mereka mendayung. Akhirnya, kapal hanya melaju mengikuti ombak dan arah angin. Tidak ada prestasi besar yang dihasilkan semasa pemerintahannya.

Kehidupan pribadi sang walikota pun tidak lebih baik. Waktu untuk istri dan anak-anaknya habis tersita oleh banyaknya aktivitas teknis yang membuat ia terpenjara dalam kesibukan. Secara perlahan, ia mulai kehilangan dukungan dari bawahannya sendiri, dan bahkan dari istri dan anak-anaknya.

Sebagai seorang pemimpin, ia seharusnya menempatkan kepemimpinan  (leadership)  di depan, baru kemudian pengelolaan  (managerialship).  layaknya seorang nahkoda, arahkan dulu ke mana kapal itu akan berlabuh, kemudian berikan motivasi dan pembinaan kepada para kelasi, setelah itu baru lakukan pendelegasian. Demikian juga dengan Anda, karena setiap orang adalah pemimpin, siapa pun Anda, apa pun pekerjaan Anda, apa pun peran Anda dalam hidup, selalu letakkan kepemimpinan di depan pengelolaan.

Kepemimpinan dalam Kubik Leadership adalah kemampuan untuk menentukan ke mana hidup akan kita arahkan, apa-apa saja yang ingin kita lakukan dalam hidup ini, dan jalan mana yang harus kita tempuh untuk mencapainya. Jadi kata  ”leadership”  dalam pembahasan buku ini lebih ditujukan untuk diri sendiri, yaitu berupa kemampuan untuk memimpin diri kita sendiri, bukan memimpin orang lain. Saya percaya bahwa sebelum seseorang mampu memimpin dirinya sendiri dengan baik. Sedangkan, kata “kubik” mengacu pada satuan isi sebuah ruang tiga anatomi kepemimpinan diri yang harus kita pimpin dalam diri kita, yaitu kepemimpinan terhadap keyakinan, aksi, dan pekerti.

Tiga anatomi kepemimpinan diri inilah yang membuat kita menjadi manusia yang utuh, lengkap, dan sempurna.  Treatment  yang dilakukan terhadap tiga anatomi ini akan menjadi sebuah solusi esensial karena sangat fundamental dan melingkup seluruh dimensi kehidupan manusia dari hulu hingga hilir.

Dalam konsep Kubik Leadership, yang dimaksud dengan keyakinan  (faith)  adalah seperangkat prinsip dan nilai yang sekaligus menjadi misi suci hidup kita. Aksi adalah aktivitas nyata yang didasarkan pada seperangkat aturan hidup. Sedangkan pekerti adalah sikap mental yang melahirkan kecenderungan perilaku sehari-hari.

Bagaikan sebuah pohon, keyakinan itu seperti akar. Selain menjadi pintu gerbang masuknya energi, juga mengokohkan keseluruhan pohon. Apabila pohon itu memiliki akar kuat, badai sebesar apa pun takkan mampu merobohkannya. Sedangkan aksi adalah batang pohon, ranting dan dedaunan. Mereka mentransformasi energi yang mereka dapatkan dengan sangat sempurna sehingga mampu menghasilkan buah-buahan yang manis. Buah-buahan itu adalah pekerti  manusia.

Ketiga anatomi tersebut harus dipimpin. Jangan biarkan ketiganya bergerak sendiri tanpa kita arahkan. Kemampuan kita untuk memberi arah yang tepat kepada ketiga anatomi kepemimpinan hidup tersebut akan membangkitkan kekuatan sangat dahsyat dan menjadikan kita sebagai  jenderal dalam perjalanan hidup kita sendiri. Itulah esensi dari Kubik Leadership.

Sumber: Buku Kubik Leadership

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter