Niat Yang Salah

Sebelumnya telah disinggung tentang keyakinan, harapan, keteladanan, dan ikhtiar yang salah. Sekarang tentang niat yang salah. Tepatnya, niat yang kurang sempurna. Ada sebuah kisah apik dan menarik untuk Anda.

Diriwayatkan, salah satu pintu surga adalah pintu sedekah –khusus untuk ahli sedekah. Di dalamnya ramailah para hartawan yang dermawan (dulunya, sewaktu di dunia). Tahu-tahu, ada orang miskin celingak-celinguk dan masuk melalui pintu tersebut! Terang saja semua pada kaget! Mereka pikir, mana mungkin si miskin ini ahli sedekah?

Sewaktu dicecar pertanyaan, sambil malu-malu si miskin ini menjawab, “Memang, sewaktu di dunia, sedekah saya tidak banyak. Tapi, saya pengeeeeen sekali bersedekah banyak. Eh, ternyata keinginan saya ini dicatat sama Allah! Dicatat sebagai pahala! mungkin inilah yang mengantarkan saya sampai di pintu ini.”

Hm, masih ingat dengan janji Nabi? “Orang yang meniatkan suatu kebaikan namun tidak mengamalkannya, maka Allah akan mencatat baginya satu pahala yang sempurna. Orang yang meniatkan suatu kebaikan lalu mengamalkannya, maka Allah akan mencatat baginya pahala sebanyak 10 sampai 700 kali lipat.” Itulah keutamaan niat. (Tentu, lebih baik lagi kalau diiringi dengan amal.)

Kalau sekarang Anda masih bersedekah 10 persen, yah tidak apa-apa. Itu standar minimal dan teruslah ditingkatkan. Namun pada waktu yang sama, niatkan untuk bersedekah 20 sampai 40 persen suatu hari nanti. Jadikan itu cita-cita. Mudah-mudahan jadi pahala, mudah-mudahan jadi doa. Adalah kurang bijak kalau Anda meniatkan bersedekah 10 persen terus-menerus. Wong, niat itu masih gratis kok! Ngapain dikit-dikit? Right?

Saya pribadi, ketika melihat orang bersedekah besar-besaran, saya malah termotivasi dan berdoa agar bisa seperti orang itu. Sebagian kita, ketika melihat orang bersedekah besar-besaran, eh malah curigaan dan berlagak jadi auditor amal. Sok-sok mengaudit amal orang lain. Pernah nonton film Ketika Niat Bertasbih? Hush, ngawur! Maksud saya, buatlah niat yang bertasbih, bukan prasangka yang bertasbih. Hehehe!

Jarang orang sadar bahwa niat yang benar itu menguatkan. Misal, ketika telat makan siang, kemungkinan besar Anda akan kelaparan, lemas, dan sedikit pusing. Padahal, paginya Anda sudah sarapan. Nah, bayangkan saat-saat Anda berpuasa. Anda tidak makan sekitar 14 jam! Tapi, kok Anda nggak kelaparan, lemas, dan pusing? Karena puasa Anda diawali oleh niat yang benar. Sekali lagi, niat yang benar itu menguatkan.

Sumber: Percepaatan Rezeki By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter