Ikhtiar Yang Salah

Sebagai nabi akhir zaman, Nabi Muhammad selalu memakai cara-cara yang sangat alamiah, sangat manusiawi, bisa diteladani, dan bisa diteruskan. Ini bedanya Nabi Muhammad dengan nabi-nabi terdahulu. Sekarang, buka mata Anda. Pasang telinga Anda. Mari kita simak satu per satu:

• Demi menjadi panglima perang yang berhasil: dia berlatih, bersiasat, dan berjuang. Bukan menghidupkan orang mati.

• Demi menjadi kepala negara yang berhasil: dia berempati, bersi, dan bersinergi. Bukan memerintah jin.

• Demi menjadi pendakwah yang berhasil: dia mengadakan percakapn dengan umatnya. Bukan membelah lautan.

• Demi menjadi pedagang yang berhasil: dia menjaga mutu, menjaga amanah, dan menjaga janji. Bukan meramal melalui mimpi.

Herannya, sebagian kita malah merindu-rindukan guru-guru yang memakai cara-cara yang tidak alamiah. Mereka yang dianggap guru-guru itu pun mengaku diri mereka paranormal, ustadz, kyai, dan syekh. Yah, Cuma ngaku-ngakunya, padahal bukan. Katakanlah mereka mampu:

• Menerawang suatu kejadian tanpa melihat langsung.

• Menebak masa lalu atau masa depan seseorang.

• Menembus sesuatu, menghilang, kebal, atau sakti.

• Anda pun disarankan untuk menempelkan kertas atau kain yang bertuliskan ayat-ayat, konon, ini dapat melariskan usaha, memagari usaha, menolak bala, memikat orang, atau yang semacamnya.

Sekilas, semua ikhtiar di atas tampak sangat islami. Namun pertanyaannya, pernahkah Nabi dan sahabat melakukannya?
• Pernahkan Nabi menerawang suatu kejadian tanpa melihat langsung?
• Pernahkah Umar menebak masa lalu seseorang?
• Pernahkah Usman menebak masa depan seseorang?
• Pernahkah Ali menang perang dengan ilmu kebal?
• Pernahkah Khadijah melariskan usaha dengan kain bertuliskan ayat-ayat?
• Sama sekali tidak pernah!

Memang, kami tidak berani serta-merta menyalahkan mereka yang memakai cara-cara yang tidak alamiah tersebut. Hanya saja, menurut kami, di sana sudah muncul keragu-raguan (syubhat). Mungkin saja ada makhluk lain dan kekuatan lain yang bermain. Agama mengajarkan dan menganjurkan, kalau ada sesuatu yang meragukan, maka tinggalkan. Ting-gal-kan! Pilih yang pasti! Cukuplah kita belajar kepada guru-guru yang ‘yang biasa-biasa’ saja. Asalkan mereka teruji ilmu, amal, dan akhlaknya. Right?

Kalaupun sesekali Nabi pernah ‘meramal’ suatu kejadian, itu semata-mata karena wahyu dengan izin Allah. Lantas, bagaimana pula dengan ramalan shio, zodiak, dan SMS premium di sekitar kita? Menurut kami, ini adalah sesuatu yang tampaknya main-main, namun sebenarnya mempermainkan iman. Tampaknya sepele, namun sebenarnya menyepelekan iman. Saran kami, ting-gal-kan!

Sumber: Percepaatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter