Bacalah (3)
Banyak orang menganggap bahwa kaya itu menyenangkan. Dulu pun kami menganggap begitu. Setelah sekian lama, barulah kami sadar. Ternyata? Ternyata itu benar! Hehehe. Ngomong-ngomong, ketika kami menyusun buku ini, beberapa orang mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kami baik secara langsung maupun tidak langsung. Nah, sebagai penutup inilah jawaban kami.
Mengapa 40 Hari?
Ini semata-mata menunjukkan kesungguh-sungguhan belaka. Di mana Anda bersungguh-sungguh menerapkan isinya selama 40 hari berturut-turut. Mudah-mudahan dalam 40 hari, akan terjadi suatu pembiasaan (habit). akan terjadi pula suatu percepatan. Cuma itu. Perlu digarisbawahi di sini, sama sekali tidak ada yang sakral pada angka 40 atau 99. Sama sekali tidak ada.
Apa Kaitan Buku Ini Dengan Buku Sebelumnya?
Buku ini adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dari buku mega-bestseller 7 Keajaiban Rezeki. Dapat dikatakan, hampir-hampir mustahil terjadi percepatan jika hanya menerapkan salah satunya. Bahkan kami pun menghimbau, bacalah ulang mega-bestseller 7 Keajaiban Rezeki. sekali lagi, baca ulang. Apalagi dua hal yang paling fundamental, yakni Sepasang Bidadari dan Golongan Kanan, tidak disinggung di buku yang Anda pegang ini.
Di Mana Kami Menulisnya?
Yah, di mana saja. Melalui berbagai gadget, kami mengetiknya di rumah, bandara, pesawat, hotel, pantai, pokoknya di mana saja. Alhamdulillah, sepanjang 2010 kami diberi kesempatan oleh-Nya menikmati keindahan Danau di Jayaputra, bird eye view di Timika, Pantai Sekotong di Lombok, Tanah Lot di Bali, merajut kenangan di Payakumbuh dan Bukit Tinggi, snorkling di Sabang (Aceh) dan Bunaken (Manado). Tanpa terasa, sudah puluhan kota termasuk Mekkah dan Madinah.
Adakah Kisah Pribadi Di Dalamnya?
Ada. Kalau di buku sebelumnya diceritakan bagaimana saya dikaruniai istri, maka di buku ini diceritakan bagaimana saya dikaruniai anak. Jujur, kedua peristiwa itu sangat mewarnai masing-masing buku dan saya berharap dapat menjadi hikmah berharga bagi sidang pembaca sekalian. Lantas, mengapa buku ini bernuansa islami? Hm, sebenarnya tidak juga. Karena begitu saya merilis buku pertama pada 2005, setelah itu saya berturut-turut merilis tiga buku bernuansa islami, yang salah satunya saya tulis bersama seorang tokoh Islam.
Sumber: Percepatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Komentar Terbaru