Bolehkah Miskin?
Pada kedua telapak tangan manusia terdapat bulatan angka Arab, yaitu 18 dan 81. Kalau itu di jumlahkan, maka jadilah 18 + 81 = 99. Kalau itu di rapatkan, maka jadilah 1881= 19 x 99. jumlah kata shalat di dalam kitab suci dengan berbagai kata turunannya juga 99. Seolah-olah ini semua mengisyaratkan sifat-sifat-Nya.
Tuhan sendiri mempunyai sifat Maha Kaya (Al-Ghani) dan Maha Mengayakan (Al-Mughini). Nah, sebagai hamba-Nya, manusia diwajibkan meniru sifat-sifatNya. Ini bermaksud, manusia harus kaya dan harus mampu mengayakan orang lain. Bukankah selama ini manusia menjadi pengasih, bijaksana, dan adil karena meniru sifat Maha Pengasih, Maha Bijaksana, dan Maha Adil?
Donald Trump, seorang pengusaha berambut pirang, pernah wanti-wanti, “Kalau Anda terlahir miskin, itu bukan salah Anda. Tapi kalau Anda mati miskin, itu salah Anda! ” Saya sih tidak seratus persen setuju dengan pernyataan ini. Namun ini sungguh layak untuk direnungkan. Di sisi lain, Khalifah Ali, seorang sahabat Nabi yg berambut hitam, pernah wanti-wanti, “seandainya kemiskinan itu berwujud manusia, niscaya aku yang akan membunuhnya! “
Nah, sekiranya sekarang Anda masih miskin, yah tidak apa-apa. Hanya saja, pastikan Anda memiliki impian untuk kaya! Apapun warna rambut Anda! Gurau teman saya, “kalau impian pun tidak ada, berarti Anda telah tersesat maka segeralah ‘bertaubat’.” Hehehe! Ngomong-ngomong, tahukah Anda, cara paling sederhana untuk mengentaskan kemiskinan? Yap, dengan memastikan diri Anda tidak miskin!
Yang menggelikan, sebagian dari kita begitu pandai berkelit:
– Aslinya memang miskin, eh malah mengaku sederhana!
– Aslinya memang lamban, eh malah mengaku sabar!
– Aslinya memang pasrah, eh malah mengaku ikhlas dan tawakal!
– Aslinya memang pemalas, eh malah mengaku zuhud dan qana’ah!
– Aslinya memang tidak sungguh-sungguh melakukan, eh malah ngomong, “inilah takdir”.
– Aslinya memang tidak berniat melakukan, eh malah ngomong, “Insya Allah.”
– Padahal tidak sesempit itu makna sederhana, ikhlas, tawakal, zuhud, qanaah, takdir, dan insya Allah. Kalau cuma begitu, itu sama saja Anda mengubur dalam-dalam Pelangi Ikhtiar. Mana boleh?
Merujuk pada Islam. Rupa-rupanya, agama langit ini sangat serius menganjurkan penganutnya untuk kaya. Buktinya, ini tertulis melalui ayat-ayat, diriwayatkan melalui hadis-hadis, dan dicontohkan langsung melalui Nabi. Terlebih-lebih lagi, sampai detik ini, saya tidak menemukan satupun ayat dan hadits yang menganjurkan untuk miskin. Yang ada hanyalah ayat dan hadits tentang bagaimana menyikapi kemiskinan.
Lantas, manakah dalil-dalil yang menganjurkan untuk kaya? Inilah beberapa pesan Nabi:
– “Allah SWT lebih menyukai Muslim yang kuat iman dan nafkahnya daripada muslim yang lemah. “
– “Meninggalkan ahli waris mu dalam keadaan kaya, itu jauh lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan fakir, sehingga mereka meminta-minta kepada manusia. ”
– “Sebaik-baiknya harta adalah harta yang dimiliki oleh orang yang Saleh. ”
– “Kekayaan tidak membawa mudharat bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT”.
– “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kekafiran, kefakiran, dan azab kubur. ” Seringkali nabi memanjatkan doa seperti ini.
Sumber: 7 Keajaiban Rezeki By: Ippho Santosa

Komentar Terbaru