Ibadah Cara Kiri

Sidang pembaca sekalian, inilah ibadah cara kiri:
– Kaya dulu, baru sedekah,baru umrah.
– Mapan dulu, baru menikah, baru punya anak.
– Cukup dulu, baru berbakti kepada orang tua.
– Dapat nikmat dulu, baru bersyukur, baru husnudzon.
– Punya kebebasan waktu dulu, baru shalat dhuha, baru shalat tahajjud.
– Merasa berdosa dulu baru shalat taubat, baru istighfar.
– Selesai shalat dulu, baru zikir.
– Zikir dengan hitung-hitungan khusus.
– Sepintas, ini semua tampak masuk akal.

Padahal otak kanan dan agama malah mengajarkan kebalikannya:
– Sedekah dulu, barulah rezekinya bisa berlimpah.
– Menikah dulu, barulah rezekinya bisa berlebih.
– Bersyukur, husnudzon, istigfar, dan zikir itu mesti diamalkan kapanpun, dimanapun, dan tidak harus ada sebab-sebab khusus, juga tidak harus ada hitung-hitungan khusus. ( Boleh sih boleh. Tapi tidak harus.)
– Tidak percaya? Coba baca Sepasang Bidadari dan Perisai Langit.
– Memang, otak kiri dan otak kanan senantiasa bekerja beriringan dan saling mendukung. Apalagi terkait ibadah, otak kiri sangat berperan untuk keteraturan dan penghafalan. Apa yang sesalkan di sini adalah pola pikir kiri yang berlebihan, terutama soal rasionalitas.

Sumber: 7 Keajaiban Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter