Ketika Impian Anda Tidak Selaras

Jaka Tarub, yang gemar berjudi, diomeli istrinya. Namun Jaka Tarub tidak terima. (Kok Jaka Tarub terus sih? Yah, terserah. Ini kan buku kami, hehehe!)
“Saya kan tetap menjalankan kewajiban saya sebagai ayah,” kilah Jaka.
“Lha, apa buktinya?” tukas istrinya.
“Saya kan tetap mendidik anak,” sahut Jaka. Si anak pun dipanggil.
“Nak, ayah ‘kan sudah mengajarkan kamu berhitung. Ingat?” tanya Jaka.
Begitu anaknya mengangguk, Jaka mengajukan sebuah pertanyaan,
“Sesudah angka tujuh, angka berapa, ya?”
“Delapan! Seru anaknya bersemangat.
“Sesudah angka delapan?” tanya Jaka lagi.
“Sembilan!” seru anaknya dengan tetap bersemangat.

Jaka tersenyum. Ia bangga akan jawaban-jawabannya anaknya yang begitu tepat dan begitu percaya diri. Menurutnya, walaupun ia gemar berjudi, ia sudah berhasil mendidik anaknya, tidak seperti persangkaan istrinya.
“Sesudah angka sembilan?” kembali Jaka bertanya.
“Sepuluh! Teriak anaknya.
“Sesudah angka sepuluh? Lagi-lagi Jaka bertanya.
“Jack!” teriak anaknya dengan lantangnya.
Mendengar jawaban anaknya yang terakhir, istri Jaka langsung terperanjat!

Hehehe! Kita lanjutkan. Berdasarkan pengalaman kami dalam memberikan konsultasi, entah berapa kali kerugian seseorang itu bersumber dari ketidakselarasan impiannya dengan pasangan dan orang tuanya. Sekali lagi, ketidakselarasan impian. Jadilah Law of Attration masing-masing saling tabrakan satu sama lain. Dampak-dampak negatifnya pun merambat ke mana-mana. Bayangkan sholat berjemaah, namun masing-masing jemaah memiliki niat yang berbeda-beda. Pastilah berantakan semuanya.

Maka, inilah yang kami sarankan:
• Doa, doa, doa. Sekeras apa pun hati seseorang, sebenarnya amatlah mudah bagi Yang Maha Melembutkan. Jadi, doakan pasangan dan orangtua Anda agar impian mereka selaras dengan Anda. Lebih baik lagi doanya setelah sholat tahajjud.
• Dialog, dialog, dialog. Carilah momen yang pas dan pantas. Kemudian, bicaralah dari hati dengan pasangan dan orangtua Anda.
• Berikan perbandingan yang bisa dipahami oleh pasangan dan orangtua Anda. Juga perbandingan yang memihak pada kepentingan keluarga Anda. Yah, saatnya Anda pakai otak kanan Anda. Di mana Anda fokus pada kepentingan pihak lain.
• Pinjamkan mereka buku ini, juga buku Mega-bestseller 7 Keajaiban Rezeki. mudah-mudahan bisa mencairkan dan mencerahkan.
• Sebisa-bisanya, ajak pasangan dan orangtua Anda untuk mengikuti seminar kami. Bukan apa-apa. Terkadang, pihak ketiga yang dianggap ahli dan netral itu lebih didengarkan ketimbang anggota keluarga sendiri. Persis seperti seorang istri yang menasihati seorang suami untuk tidak makan ini dan itu. Bisa jadi nasihat si istri tidak digubris oleh si suami. Nah, akan lain ceritanya kalau seorang dokter yang menasehati. Bisa jadi nasihat si dokter lebih didengarkan oleh si suami. Karena si dokter dianggap ahli dan netral.
• Khusus untuk pasangan Anda, rutinkan sholat berjemaah, dimana si suami yang menjadi imam. Setelah sholat berjemaah, iringi dengan doa bersama. Ini membiasakan Anda dan pasangan Anda untuk senantiasa menyelaraskan impian. Pahamilah, impian itu doa. Sholat juga doa. Right?
• Akan lebih powerful _ lagi, kalau Anda menyelaraskan impian Anda dengan saudara-saudara, sahabat-sahabat, dan karyawan-karyawan Anda. Semakin banyak, semakin selaras, semakin baik. Ibarat sholat berjamaah, semakin banyak, yah semakin baik. _Right?

Namun demikian, kami juga tidak dapat menutup mata. Kenyataan sehari-hari menunjukkan, ada juga orangtua yang melampaui batas! Diktator! Di mana mereka memaksakan kehendak mereka kepada anak-anak mereka.
• “Yang namanya anak itu mesti patuh. Pokoknya, kamu harus kuliah di jurusan ini. Tidak boleh jurusan itu!”
• “Kamu tidak boleh membantah Papa. Pokoknya, kamu harus jadi PNS. Tidak boleh kerja atau usaha yang lain!”
• “Kamu harus nurutin Mama. Pokoknya, kamu harus menikah dengan orang dari suku ini. Tidak boleh suku itu!”
• “Papa-Mama akan sedih sekali, kalau kamu tidak mau mengikuti kemauan Papa-Mama.” Hm, ini ancaman halus.

Menurut kami, kalimat-kalimat orangtua di atas sungguh melampaui batas. Adapun saran kami bagi orangtua:
• Berikanlah nasihat terbaik, bukan paksaan terbaik untuk anak Anda.
• Bukankah setelah akil baligh, setiap orang berhak atas pilihan dan keputusannya sendiri?
• Bukankah anak Anda yang bakal menjalani semuanya, bukan Anda? Bahkan barangkali –mohon maaf- Anda tidak memiliki cukup umur untuk melihat hasil pilihan dan keputusan itu.
• Mungkin Anda lupa, ketika menyarankan sesuatu, Anda menginginkan sesuatu yang membahagiakan dan memuaskan Anda, bukan membahagiakan dan memuaskan anak Anda.
• Kalau memang Anda ingin anak Anda bahagia, maka biarlah dia dengan pilihan dan keputusannya.
• Ingatlah, Nabi saja tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap umatnya. Dia hanya menyampaikan jalan kebaikan dan keburukan. Terus, ia memberitahu akibat dari masing-masing jalan tersebut.
• Sekiranya Anda masih saja memaksakan kehendak, berarti Anda telah melampaui batas! Anda merasa diri Anda lebih daripada Nabi!
• Camkan baik-baik, begitu Anda tidak ridha dengan pilihan dan keputusan anak Anda, berarti rezeki dan kehidupan anak Anda akan tersendat-sendat.
• Nah, sebaliknya, begitu Anda meridhai dia, meridhai pilihan dan keputusannya, mudah-mudahan rezeki dan kehidupannya akan lancar-lancar saja.
• Sekarang, semua kembali kepada Anda. Apakah yang Anda ingin rezeki dan kehidupan anak Anda tersendat-sendat atau lancar-lancar saja.
• Sekarang, semua kembali kepda Anda. Apakah yang Anda ingin rezeki dan kehidupan anak Anda tersendat-sendat atau lancar-lancar saja? Selakan pilih.

Lantas, apa kaitan impian dengan tindakan? Inilah pokok-pokok tentang keduanya:
• Impian belaka tanpa tindakan adalah mimpi di siang bolong.
• Tindakan belaka tanpa impian adalah mimpi buruk. Sangat buruk.
• Impian itu seperti arah dan tindakan itu seperti berlari.
• Setepat apa pun arah Anda, tapi Anda tidak bergerak sama sekali, itu sama saja mimpi di siang bolong.
• Secepat apa pun Anda berlari, sejauh apa pun Anda berlari, seserius apa pun Anda berlari, tapi kalau arahnya salah, itu sama saja mimpi buruk. Sangat buruk.
• Walaupun Anda hanya merangkak, asalkan arahnya benar, maka itu jauh lebih baik daripada berlari dengan arah yang salah.
• Berlari dengan arah yang benar, itulah yang terbaik. Siap?

Sumber: Percepatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter