Punya Prinsip Mengubah Mulai dari Diri Sendiri

Punya Prinsip Mengubah Mulai dari Diri Sendiri
By: Ratna Farida
Banyak orang merasa stress dan sakit hati, karena situasi di sekelilingnya tidak nyaman dan tidak sesuai seperti keinginannya. Sehingga mereka berupaya keras untuk mengubah segala sesuatu di sekelilingnya menjadi lebih baik dan kerap kali menuntut orang-orang di sekitarnya berubah sesuai dengan keinginannya. Dia juga merasa kecewa ketika orang yang berusaha dia ubah ternyata tak kunjung berubah. Ketahuilah bahwa setiap hati ada dalam genggaman Allah, dan tak ada yang kuasa mengubah hati orang lain.
Ternyata jika kita mengeluhkan orang lain (pasangan, mertua, anak, saudara, tetangga dll.) jahat, judes, pelit, menyakiti, dll., cara menghadapinya adalah dengan :
– Kita punya prinsip mengubah hidup mulai dari diri sendiri
– Kita memperbanyak rekening kebaikan
– Kita tidak bisa menuntut orang lain berubah seperti mau kita
– Kita fokus jadi teladan, terus bersabar dan terus berbuat baik
Banyak orang belum menyadari bahwa kunci untuk mengubah situasi dan orang di sekelilingnya ada pada dirinya sendiri, bukan pada orang lain. Jadi, jika Anda ingin mengubah orang lain, Anda berkewajiban memberi tauladan untuk orang tersebut.
Hal ini senada dengan firman Allah : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Rad:11).
Syed Muhammad Naquib Al-Attas menjabarkan bahwa konsep terbaik dalam upaya membangun peradaban adalah dengan membangun individu-individu yang baik (sholeh). Bukan dengan membangun komunitas. Sebab, komunitas adalah kumpulan individu. Ketika mayoritas individunya baik, maka baiklah komunitas itu. Begitu pula sebaliknya.
Teori perubahan diri inilah yang digunakan para pemimpin Islam sejak awal. Umar berhasil memimpin peradaban Islam dengan sangat baik karena ketatnya beliau dalam menjaga diri dari penyimpangan iman. Pengawasan Umar terhadap diri dan keluarga pun sangat luar biasa ketatnya. Umar yakin betul bahwa jika dirinya gagal mengubah diri, maka yang dipimpinnya pun tidak akan pernah mau dan tidak akan bisa berubah.
Demikian halnya dengan para ulama. Imam Ghazali misalnya, ketika melihat situasi sosial masyarakat sudah tidak lagi memperhatikan dan mengutamakan tegaknya agama dalam keseharian. Beliau langsung melakukan perenungan untuk menciptakan satu perubahan diri. Akhirnya dari proses panjang melakukan perubahan diri lahirlah kitab Ihya ‘Ulumuddin. Kitab fenomenal yang menginspirasi umat Islam hingga dewasa ini. Ihya ‘Ulumuddin dipandang sebagai bentuk kontribusi Imam Ghazali yang terbesar bagi kemenangan umat Islam dalam menghadapi tentara Salib yang digeneratori oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.
Muhammad Sulthan Al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel, sebuah kota yang tak terkalahkan lebih dari 7 abad lamanya oleh ratusan atau bahkan mungkin ribuan serangan. Apa rahasia Sultan Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan Benteng Konstantinopel? Tiada lain adalah perubahan diri. Al-Fatih selama lebih dari 17 tahun benar-benar mendesain diri untuk menjadi pemimpin unggul. Bahkan sejak usia baligh pejuang yang dijuluki Pedang Malam itu tidak pernah meninggalkan shalat tahajjud (qiyamul lail) dalam semalam pun. Apalagi shalat jama’ah, sholat rawatib saja beliau tidak pernah ketinggalan. Pantas jika kemudian Allah memberikan satu teguran keras kepada umat Islam bahwa tidak akan ada kemenangan sebelum ada kesiapan dari umat Islam.
Ketika kita ingin mengubah situasi dan orang di sekitar kita, maka mulailah perubahan itu pada diri sendiri. Mengubah diri itulah yang menjadi kunci utama perubahan situasi dan orang di sekeliling kita. Maka rencanakanlah perubahan dalam hidup kita untuk benar-benar menjadi orang yang baik sedini mungkin. Jika tidak, kita benar-benar akan berada dalam kerugian yang besar.
Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka beruntunglah dia. Siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka merugilah dia. Dan, siapa yang esok lebih buruk dari hari ini maka celakalah dia.
Sangat melelahkan, jika kita hanya fokus menuntut orang lain untuk berubah. Jika focus kita hanya kepada orang lain, lalu siapa yang akan bertanggung jawab untuk mengubah diri kita sendiri? Fokuslah untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.
Mudah bagi Allah memilih kita untuk menjadi jalan perubahan bagi yang lain sebagai karunia bagi hamba-NYA yang bisa memperbaiki dirinya sendiri.
Dengan prinsip mengubah diri sendiri menjadi lebih baik, kita dapat mengubah orang di sekitar kita menjadi lebih baik. Pada akhirnya, efek berantai ini akan mengubah situasi dunia menjadi lebih baik dan lebih menyenangkan. Siapapun yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri karena Allah, pada saat yang sama tanpa disadari, dia sudah memperbaiki yang lain.
Dan akhirnya rekening kebaikan cair dalam bentuk : kebahagiaan, dicintai. Rekening kebaikan juga cair dalam bentuk kemudahan, terhindar dari kesulitan, kesehatan, kesuksesan, keharmonisan, kata dituruti, layak jadi pemimpin, dll.
#Day13
#30DWC
#30DWCJilid22

Komentar Terbaru