ENERGI MANUSIA MEMILIKI SIKLUS TERTUTUP

Berbeda dari HKE yang berlaku di alam semesta atau makrokosmos, siklus energi yang dikeluarkan manusia bersifat tertutup. Artinya, energi yang keluar dari seorang manusia akan kembali ke orang yang sama. Kalaupun tidak langsung kembali, suatu saat energi itu pasti kembali ke manusia yang mengeluarkannya. Artinya, epos atau negatif yang telah kita tabung, suatu ketika pasti akan “dicairkan” untuk kita sendiri, bukan untuk orang lain.

Setiap manusia memiliki “frekuensi” sendiri-sendiri yang menjadi “nomor acctiont” tabungan energinya. Frekuensi itu tidak akan tertukar, tidak pula bisa ditukar, serta membuat tabungan energi kita unik. Seorang ahli radiesthesi mampu mendeteksi perbedaan frekuensi ini pada manusia. Keunikan dari masing-masing frekuensi manusia sering digunakan untuk mencari orang hilang.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang sangkakala dikatakan bahwa pada saat dunia berakhir atau kiamat nanti, semua anggota tubuh manusia akan hancur luluh. Kecuali satu tulang saja yaitu Ajbuz-Dzanab. Ukurannya hanya sebesar biji sawi. Jika Anda menyaksikan proses pembakaran mayat atau kremasi, Anda akan menemukan satu butir debu berukuran lebih besar dari debu lainnya. Itulah Ajbuz-Dzanab dari orang tersebut. Dalam agama Buddha, debu yang lebih besar tersebut disebut dengan relik atau Saririka Dhatu. Orang suci seperti  Buddha akan memiliki relik yang sangat indah, seperti beras mengkristal dan berwarna jernih.

Ajbuz-Dzanab berfungsi seperti black box pada pesawat terbang. Dia menyimpan seluruh data kuantitatif dan kualitatif dari setiap energi yang dikeluarkan manusia pemiliknya selama hidup, serta menjamin bahwa tabungan energinya tidak akan pernah tertukar. Sementara Ajbuz-Dzanab menyimpan datanya, alamlah yang menyimpan energi yang kita tabung.

Tuhan menciptakan alam semesta (makrokosmos) ini untuk kepentingan manusia semata-mata. Fungsi dari makrokosmos adalah untuk mendukung semua aktivitas mikrokosmos atau manusia. Alam semesta menyediakan energi bagi manusia, dan pada alam semesta manusia “menitipkan” tabungan energinya.

Sumber: Kubik Leadership

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter