Bersatu Kita Utuh, Mendua Kita Rapuh

Tuntunan bijak dan falsafah hidup yang diturunkan sejak dahulu selalu mengatakan bahwa alam semesta beserta isinya berasal dari satu sumber energi abadi yang kekal dan menyeluruh. sumber ini memiliki kekuatan, kecerdasan dan kesadaran yang tak terbatas dengan sifat alamiahnya yang bijak, penuh kedamaian, kasih sayang, kebahagiaan, dan mahalengkap-sempurna. Manusia diciptakan oleh sumber yang SATU itu pula, untuk memahami serta mengalami kembali hakekat SATU-an maupun ke-SATU-an sambil menikmati keanekaragaman sebagai tujuan hakiki hidupnya.

Lama sudah manusia mempertanyakan: “jika kita adalah ciptaan yang paling sempurna berbahan dasar yang berasal dari sumber yang maha dahsyat penuh kasih dan sayang, lalu Mengapa hidup kita demikian banyak dipenuhi masalah? Mengapa kita tidak merasakan kedamaian dan kebahagiaan seperti hakikatnya sifat bahan dasar kita itu. Dan para guru bijak pun menjelaskan kurang lebih demikian, “engkau tidak bisa mengalami sifat alamiahmu disebabkan oleh pikiranmu sendiri. Pikiranmu menghalangimu untuk bisa merasakan dan menghayati sifat dirimu yang sejati.”

Kini, kita pun tahu bahwa pikiran kita memang benar-benar mewarnai hidup kita, seperti kaca mata yang berwarna merah, hijau, atau hitam yang memberi kita cahaya ilusi yang menipu. Ketika kita tumbuh besar,otak kita sudah terprogram dengan segala sesuatu yang men”dua”, seperti hal-hal tidak menyenangkan yang perlu dihindari serta segala hal yang menyenangkan untuk dicari dan dimiliki. Otak kita selalu memfilter kenyataan anne-marie dan memastikan bahwa hal itu sesuai dengan (warna kacamata) yang kita yakini. Tidak mengherankan jika kita tidak mampu melihat kedamaian, kemakmuran, cinta, dan kasih sayang sebagaimana adanya.

Berbagai penjelasan bijak pun mengungkapkan bahwa energi yang SATU itu menciptakan Semua menjadi berpasangan atau DUA. Pasangan-pasangan (dualisme), seperti lelaki dan perempuan, siang dan malam, panas dan dingin, serta benar dan salah, karenanya seperti satu sisi dari mata uang yang sama. Dari tarik-menarik (tension dan Attraction) antara DUA polaritas itulah kehidupan di dalam semesta tercipta.

Sumber: Quantum Ikhlas

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter