Bacalah (2)

Kami tahu persis, sebagian Anda membeli buku ini karena ditimpa masalah. Nah untuk itu, coba Anda jawab dulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
• Mungkinkah guru memberikan ujian iseng-iseng begitu saja, tanpa tujuan?
• Mungkinkah guru memberikan ujian kepada anak didiknya tanpa menyiapkan jawabannya?
• Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa mempersiapkan anak didiknya?
• Mungkinkah guru memberikan ujian anak SMA kepada anak SD?
• Mungkinkah guru tidak menaikkan kelas anak didiknya yang mampu menjawab ujian?

Nah, guru saja begitu, apalagi Allah?
• Mana mungkin Allah menurunkan masalah iseng-iseng begitu saja, tanpa tujuan?
• Mana mungkin Allah menurunkan masalah kepada Anda tanpa menyiapkan solusinya!
• Mana mungkin Allah menurunkan masalah tanpa mempersiapkan Anda terlebih dahulu!
• Mana mungkin Allah menurunkan masalah yang Anda tidak mampu mengatasinya!
• Mana mungkin Allah tidak mengangkat derajat Anda ketika Anda mampu mengatasinya!

Jadi, ketika masalah menimpa, tetaplah optimis! Insya Allah pasti ada solusinya! Bahkan solusinya itu lebih dari satu!

Selain optimis, kita juga mesti introspeksi dan memohon ampun. Semua terjadi dengan izin Allah. Termasuk turunnya masalah. Tidak mungkin Allah iseng-iseng begitu saja, mengizinkan terjadinya suatu masalah. Mungkin ini adalah cara Allah menggojlok kita agar menjadi lebih tangguh. Atau ini adalah cara Allah untuk menjewer kita atas kesalahan-kesalahan kita di masa lalu. Sekali lagi, pandai-pandailah kita introspeksi dan memohon ampun. Untuk lebih jelasnya, silakan simak audio motivasi dari sahabat saya, Nasrullah, di CD bonus.

Lantas, bagaimana dengan titik terendah?
• Gagal total
• Menganggur
• Bankrut
• Sakit berat
• Teraniaya
• Ditipu habis-habisan
• Ditinggalkan

Selain introspeksi dan memohon ampun, baiknya kita juga bersyukur. Betul sekali, bersyukur. Lho kok bisa? Karena saat kita sedang berada di titik terendah, sebenarnya pada masa yang sama kita juga berada di titik tertinggi. Di mana kemungkinan besar kita sedang mesra-mesranya dengan Allah, Zat Yang Tinggi. Ini menurut saya dan sahabat saya, Muhammad Rofiq. Tidak percaya? Coba deh Anda perhatikan fenomena-fenomena berikut:
• Ka’bah
• Sujud
• Tawadhu (rendah hati)
• Berdoa dan berzikir dengan suara rendah
• Teraniaya
• Masa-masa sulit

Apa persamaanya? Ternyata semuanya berada di titik terendah!
• Bukankah Ka’bah –bangunan yang paling mulia di muka bumi ini- berada di lembah?
• Bukankah ketika manusia sedang bersujud, sedang tawadhu, sedang berdoa dan berzikir dengan suara rendah, dia tengah dekat-dekatnya dengan Allah?
• Bukankah ketika manusia sedang teraniaya dan sedang melalui masa-masa sulit, dia tengah dekat-dekatnya dengan Allah?
• Bukankah dengan berada di titik terendah, doa akan lebih dijabah?

Jadi, titik terendah bukanlah sesuatu untuk disesali. Melainkan untuk diintrospeksi dan disyukuri. Makanya, bagi Anda yang sedang berada di titik terendah, setulus hati saya ucapkan, “selamat! Anda dapat tiket VIP bersama Allah!”

Sumber: Percepaatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter