Benarkah Kaya itu Mudharat?
Terang sudah, menjadi kaya merupakan salah satu pesan mendasar dalam Islam. Kenapa? Karena dengan kekayaan, kita akan lebih mudah dalam beribadah. Sebaliknya, dengan kekafiran, kita akan lebih dekat dengan kekufuran.
Adalah Robert Kiyosaki, seorang pengajar ilmu kekayaan yang juga seorang pengusaha, yang menolak mentah-mentah paham religius yang berbunyi, ” Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan. ” Dan pendapat ini kembali ia kemukakan sewaktu saya bertemu dengannya di Singapura beberapa tahun yang lalu. Terlepas dari itu, menurut saya uang itu seperti pisau. Sayatannya dapat membawa manfaat sekaligus membawa mudharat. Yah, tergantung siapa yang memegangnya. Dan sebenarnya dengan adanya uang, kita akan lebih mudah dalam:
– zakat dan sedekah
– haji dan umrah
– menafkahi keluarga dan ahli waris
– menuntut ilmu dan menemui guru-guru
– menegakkan ekonomi syariah
– membangun sarana umat
– meningkatkan bargaining position umat
– dakwah dan syiar
– syukur dan iman
Pernah suatu ketika, Nabi menugasi dua sahabatnya yang kaya-raya pada dua kesempatan yang berbeda. Masing-masing ditugasi untuk mengimbangi pengaruh kaum Yahudi di pasar-pasar. Lha, tanpa kekayaan, Apa mungkin tugas mulia ini dapat ditunaikan dengan baik? Rasa-rasanya sih mustahil.
Tidak perlu diperdebatkan lagi, kekayaan bukanlah mudharat. Asalkan:
– mampu mempertanggung-jawabkan ‘dari mana’ kekayaan tersebut,
– mampu mempertanggung-jawabkan kemana kekayaan tersebut,
– tetap bersikap rendah hati, sederhana , dan dermawan,
Dalam satu riwayat diceritakan bahwa iblis menaruh benci seribu karat terhadap orang yang kaya. Tepatnya, orang kaya yang bersyukur. Bukankah itu artinya, Yang Maha Kuasa sangat mencintai orang kaya yang bersyukur? Lha, apa tanda-tanda syukurnya? Dalam riwayat tersebut dijelaskan, iya mengambil kekayaannya pada tempatnya dan mengeluarkannya juga pada tempatnya. Dengan kata lain, iya mampu mempertanggungjawabkan ‘dari mana’ dan ‘kemana’ kekayaan tersebut.
Dengarkan saya. Nabi, walaupun kaya, namun tetap sederhana. Alih-alih bermewah-mewah, ia malah memanfaatkan hampir seluruh kekayaannya untuk menolong sesama dan memperjuangkan agamanya. Dengan pola hidup sederhana sedemikian, maka ketika wafat ia tidak meninggalkan warisan, tidak pula meninggalkan utang. Kalaupun ada sesuatu yang ia tinggalkan, itu adalah Al-Qur’an satu-satunya di dunia kitab suci yang bisa dihafalkan, satu-satunya kitab suci yang masih otentik, dan satu-satunya kitab suci yang hanya tersedia satu versi.
Sumber: 7 Keajaiban Rezeki
By: Ippho Santosa

Komentar Terbaru