Ketika Anda Mengalami Keajaiban…

Katakanlah, Anda sudah berzakat, sudah membayar hak orang lain, sudah menyelaraskan impian, sudah menyempurnakan ikhtiar, dan sudah memahami cara meminta. Nah, kalau itu semua sudah, begitu kan? Hm, nanti dulu..

Kadang, kita suka berpikir muluk-muluk. Terutama soal keajaiban. Suatu peristiwa yang sangat dramatis, itulah yang kita anggap sebagai keajaiban. Umpamanya:
• Rugi ratusan juta! Tahu-tahu Anda untung dalam hitungan jam!
• Berutang miliaran! Tahu-tahu utang Anda lunas dalam seminggu!
• Sakit keras selama sebulan! Tahu-tahu Anda sembuh dalam sehari!
• Mengalami kecelakaan maut! Tahu-tahu Anda selamat!
• Divonis mandul! Tahu-tahu Anda punya anak!
• Maka Anda pun menganggap itu semua sebagai keajaiban!

Padahal coba Anda bayangkan sisi sebaliknya:
• Ketika Anda tidak pernah rugi ratusan juta..
• Tidak pernah berutang miliaran…
• Tidak pernah sakit keras selama sebulan…
• Tidak pernah mengalami kecelakaan maut…
• Tidak pernah divonis mandul…
• Bukankah itu artinya Anda tengah menikmati keajaiban setiap detiknya? Betul-betul setiap detiknya! Sadarkah Anda?

Oleh karena itu, sudah seyogianya Anda bersyukur setiap detiknya. Di mana:
• Tidak perlulah Anda menunggu rugi ratusan juta dulu, baru mau bersyukur.
• Menunggu berutang miliaran dulu, baru mau bersyukur.
• Menunggu sakit keras selama berbulan-bulan dulu, baru mau bersyukur.
• Menunggu mengalami kecelakaan maut dulu, baru mau bersyukur.
• Menunggu divonis mandul dulu, baru mau bersyukur.

Lantas, bagaimana kalau peristiwa-peristiwa di atas-rugi, sakit keras, kecelakaan, dan lain-lain- memang benar-benar terjadi? Silakan cepat-cepat intropeksi. Merasa ditegur itu lebih baik, daripada merasa diuji.

Sumber: Percepatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter