Pilih Mana, Otak Kiri Atau Otak Kanan?

Kita lanjutkan. Bagi orang kiri, tentulah seluruh penjabaran dan pemaparan di atas sulit untuk dicerna. Orang kiri yang realistis menganggap sholat dhuha itu mengurangi waktu produktif, sholat tahajjud itu mengurangi waktu istirahat, sedekah itu mengurangi rezeki, dan umrah itu menghabiskan rezeki. Kesimpulannya menurut orang kiri, “Ini tidak masuk akal!” Padahal? Akalnya yang belum masuk!

Orang Kiri
• Lebih banyak meminta daripada bersyukur.
• Meminta dulu, kalau terkabul, baru bersyukur.
• Keadaan sulit dulu, baru tawakkal, baru ikhlas.
• Mengeluh ketika keadaan sulit, sakit, rugi, atau ditipu.
• Mapan dulu, baru menikah, baru berbakti kepada orangtua.
• Kaya dulu, baru sedekah, baru berumrah.
• Kaya dengan berhemat dan menabung.
• Ikhlas dulu, baru bersedekah, baru berkurban.
• Merasa ‘dipanggil’ dulu, baru ke Tanah Suci.
• Merasa berdosa dulu, baru istigfar, baru sholat taubat.
• Selesei sholat dulu, baru zikir.
• Punya waktu luang dulu, baru sholat dhuha, baru sholat tahajjud.
• Mencari-cari alasannya untuk tidak dan menunda sedekah.
• Andai bersedekah sekalipun, fokus pada kepentingan dirinya sendiri (self-centric).
• Andai bersedekah sekalipun, sesudah itu akan kepikiran.

Orang Kanan
• Lebih banyak bersyukur daripada meminta.
• Bersyukur dulu, baru meminta. Terkabul atau tidak, tetap bersyukur.
• Keadaan sulit atau tidak, tetap tawakal, tetap ikhlas.
• Tetap tersenyum walaupun keadaan sulit, sakit, rugi, atau ditipu.
• Mapan atau tidak, tetap menikah, tetap berbakti kepada orangtua.
• Kaya atau tidak, tetap bersedekah, tetap berusaha untuk berumrah.
• Kaya dengan bersedekah dan berdagang.
• Ikhlas atau tidak, tetap bersedekah, tetap berkurban.
• Memantaskan diri agar ‘dipanggil’ ke Tanah Suci.
• Senantiasa istigfar dan sholat taubat.
• Senantiasa zikir, tidak harus selesei sholat.
• Punya waktu atau tidak, tetap sholat dhuha, tetap sholat tahajjud.
• Tidak suka banyak alasan dan action oriented dalam bersedekah.
• Dalam bersedekah, fokus pada kepentingan orang lain (other-centric).
• Dalam bersedekah, sebelum dan sesudahnya tidak pernah kepikiran.

Sebaliknya, orang kanan yang imajinatif malah menganggap sholat dhuha itu malah melapangkan waktu, sholat tahajjud itu memelihara kesehatan, sedekah itu menambah rezeki, dan umrah itu mencurahkan rezeki. Bagaikan sebuah keberuntungan! Hm, kira-kira Anda termasuk yang mana?

Masih menurut orang kiri, cukup dulu, baru menikah. Menurut orang kanan, menikah dulu, lalu tercukupkan. Bukankah Allah yang menjanjikan bahwa menikah itu mengayakan (QS. 24: 32)? Sekali lagi, kira-kira Anda termasuk yang mana?

Sumber: Percepatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter