8 Alasan Meneladani Umar

Terlihat jelas disini. Alih-alih nerimo,Nabi malah menganjurkan dan mengajarkan kita untuk menang di dunia dan akhirat. Anjuran dan ajaran itu dibumikan oleh Abdurrahman bin Auf dan Abu Bakar dengan memberdayakan kekayaan mereka. Bargaining position umat pun meningkat. Bayangkan, tanpa kekayaan, apa yang akan terjadi? Yah, sebaliknya, Bargaining position umat merosot. Persis seperti sekarang.

Bagi Anda yang masih saja ogah-ogahan untuk kaya, tolong jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
• Inginkah Anda memberangkatkan orangtua dan mertua Anda berhaji?• Inginkah Anda memberangkatkan orangtua dan mertua Anda berumrah setiap tahun?
• Inginkah Anda berlibur dengan fasilitas terbaik bersama istri Anda setiap tahun?
• Inginkah Anda memberikan rumah dan mobil terbaik untuk keluarga Anda?
• Inginkah Anda memberikan pendidikan terbaik untuk anak dan keponakan Anda?
• Inginkah Anda membantu anggota keluarga dan tetangga Anda yang berkekurangan?
• Inginkah Anda membantu orang-orang yang telah berjasa kepada keluarga Anda?

Terkadang, kita enggan dan sungkan bicara soal uang, terus mencari alasan-alasan yang menghibur diri, “Yang penting itu kaya hati, bukan kaya harta. Tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Sedekah tidak harus berbentuk uang.”  Memang, pernyataan-pernyataan barusan seratus persen benar-tak terkecuali. Cuma, uang tetap saja sangat penting, karena dengan uang kita lebih mudah dalam ibadah dan manfaat.

Sidang pembaca sekalian, percayalah:
• Kaya hati itu penting.
• ‘Kaya hati’ juga penting.
• Apa itu ‘kaya hati’? Maksudnya ‘kaya harta dan properti’.

Hei, jangan salah! Rupa-rupanya, amatlah banyak orang miskin yang diperbudak oleh harta. Meskipun mereka tidak punya harta, namun siang-malam hartalah yang terbayang-bayang di benak mereka. Sungguh, mereka tidak kaya hati. Sebaliknya, amatlah banyak orang kaya yang berhasil memperbudak harta. Serupa dengan Nabi, Umar, dan sahabat-sahabat lainnya. Bagi mereka, harta bukanlah tujuan, melainkan alat untuk memudahkan ibadah dan manfaat. Sungguh, mereka kaya hati.

Sekali lagi, lihatlah Nabi, Umar, dan sahabat-sahabat lainnya.
• Mereka kaya. Tapi mereka juga zuhud-tidak cinta pada dunia.
• Lha, kita? Sudahlah kere, eh tergila-gila pula dengan dunia!
• Dalam mengembangkan kota, mereka mengutamakan pasar (ekonomi) dan masjid. Melambangkan dunia dan akhirat. Bukan salah satunya.
• Lha, kita? Ekonomi terpuruk, masjid pun mau ambruk!
• Mereka memastikan menang di dunia (dalam segala aspej, mulai dari ekonomi, militer, sampai iptek) juga menang di akhirat. Bukan salah satunya.
• Lha, kita? Dunia, nggak jelas. Akhirat, lebih nggak jelas. Hehehe!
• Daripada tersinggung, mendingan berubah dan berbenah. Right?

Sumber : Percepatan Rezeki
By: Ippho Santosa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter