Pengakuan dari Teman-Teman
Teman saya, General Manager CRM Telkomsel, Helmi Wahidi, bercerita, “Ibu saya, guru TK. Bapak saya, tukang jahit. Berkat doa dan jerih-payah mereka, Alhamdulillah saya dan saudara-saudara dapat belajar sampai ke perguruan tinggi. Pada 1999, sewaktu berkarier di Telkomsel, saya merintis Serikat Pekerja Telkomsel. Lantaran serikat ini dipandang bersebrangan dengan kepentingan perusahaan, karier saya pun sedikit terganjal, selama tujuh tahun. Yah, saya coba bersabar dan berpegang teguh pada salah satu ayat di kitab suci. Begini bunyinya, barangsiapa yang berbuat baik dan beriman, maka ia tidak khawatir atas perlakuan tidak adil terhadap dirinya dan tidak pula khawatir atas pengurangan haknya. Lagi-lagi, berkat keyakinan kepada Yang Maha Kuasa dan doa orangtua, karier saya kembali meningkat. Setelah dipercaya untuk jabatan ini dan itu, akhirnya pada 2007 saya diangkat menjadi General Manager (CRM) sampai sekarang.”
Teman saya, Humas Medco Energi, Bondon Brillianto, bercerita “Dalam perjalanan hidup saya, saya betul-betul merasakan betapa mustajab doa orangtua. Contohnya saja, ketika saya kuliah dan ujian, orangtua selalu shalat dhuha dan berdoa, sampai ujian saya selesai. Begitu saya telepon, barulah orangtua berhenti berdoa. Alhamdulillah, semuanya jadi lancar. Yang sebaliknya juga terjadi, ketika saya ingin pindah kerja ke perusahaan lain dan orangtua kurang setuju, akhirnya semua berjalan tersendat-sendat. Menarik-nya, begitu saya berniat memberangkatkan kakak saya berhaji dan orangtua ikut mendoakan, eh, saya malah ketiban rezeki, yaitu kesempatan jalan-jalan ke Amerika.”
Teman saya di Jambi,Bakhtiar Effendi, bercerita,” Awalnya orangtua saya menjual rumah sederhana di desa, untuk tujuan berhaji. Tapi apa mau dikata, itu tidak cukup membiayai haji untuk dua orang, ayah dan ibu saya. Maka, uang tersebut saya gunakan untuk membuka usaha alat pertanian dan perkebunan . Hanya berbekal doa orangtua, saya merantau dari Kisaran ke Jambi. Subhanallah, alangkah dahsyatnya doa orangtua! Cuma dalam tempo 11 bulan, saya berhasil membiayai mereka berhaji, beli rumah, dan mobil! Setelah berhaji, mereka datang ke Jambi dan berkata, ‘Nak, insyaallah separuh Jambi akan menjadi milikmu. ‘ Benar saja. Selain usaha alat pertanian dan perkebunan, sekarang saya juga punya usaha properti, rumah makan, dan pendidikan.”
Tidak ketinggalan, teman saya di Bojonegoro, M.Ali Alciro, bercerita, “Sambil mencari jati diri, saya memulai usaha dengan berjualan telur asin, minyak goreng, beras, menjadi salesman mobil, dan memberikan les privat. Pelan-pelan usaha saya berkembang, sampai-sampai saya punya beberapa gedung walet. Ini semua betul-betul karena doa ibu. Kebetulan, ayah saya sudah meninggal dan ibu saya tengah sakit-sakitan. Lalu, saya dan keluarga pulang dan kembali meminta doa ibu. Sekarang, saya mempunyai rumah makan dan toko bangunan di 5 kota, mempunyai usaha pelatihan di 4 kota, menjadi pembicara di berbagai kota, membeli rumah lengkap dengan kolam renangnya senilai miliaran, dan merintis usaha pariwisata senilai ratusan miliar. Sekali lagi, ini semua semata-mata karena ridha Allah dan ridho ibu, yang diiringi dengan kerja keras.”
Teman sekaligus senior di Jakarta, Budi Utoyo, bercerita, “Saya memulai usaha ketika rumah saya mau disita oleh bank. Hanya bermodalkan keyakinan dan doa orangtua, Alhamdulillah saya bisa berhasil seperti sekarang. Memiliki 15 usaha, dengan aset 2 rumah, 3 ruko, 1 apartemen, 4 mobil, senilai kurang-lebih 11 miliar.”
Teman saya di Palu, M. Taswin, bercerita, “Berasal dari pedalaman, sewaktu kecil saya sama sekali tidak pernah melihat mobil. Saya memulai semuanya dari bawah. Dan harus saya akui, doa ibu adalah energi terkuat saya untuk menang bisnis ini. Sampai sekarang, kisah saya ini telah menginspirasi 40 ribuan orang di jaringan saya. Terima kasih, Mama! I love you!” Sebagai Silver Lion Tianshi dengan puluhan ribu downline, ia menjadi pembicara hampir di seluruh Indonesia dan Asia. Kebetulan, upline-nya adalah Rudi M. Noer.
Teman saya di Tanjung Pinang, Herry Putra, bercerita, “Saya dilahirkan dari keluarga guru. Sebagai anak tertua, saya betul-betul merintis dari nol. Wah, siapa sangka, berkat doa orangtua saya berhasil bikin konsultan pajak, punya percetakan ,warabala makanan, TK Islam, jadi instruktur, dan penulis buku. Betul-betul tidak disangka.” Demikianlah, doa orangtua membuat rezeki betul-betul tercurah. Right?
Sumber: 7 Keajaiban Rezeki
By Ippho Santosa

Komentar Terbaru