Penyesalan di Akhir Hidup

By: Ratna Farida
Seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam meninggal. Ketika Rasulullah menanyakan apa wasiat suaminya, si isteri mengatakan: “Entahlah ya Rasulullah, apakah itu sebuah wasiat. Saya tidak memahami karena dia hanya mengulang-ulang tiga kalimat pada saat-saat terakhirnya.”
“Kalimat apa yang kau maksud? ” tanya Rasulullah.
“Begini ya Rasul: Seandainya lebih panjang… Seandainya yang baru… Seandainya semuanya… begitu berulang-ulang,” jawab sang isteri sahabat.
Rasulullah tersenyum. Beliau pun menjelaskan maksudnya kepada isteri sahabat itu. Tiga kalimat itu adalah ungkapan sang sahabat, karena menyesali masa lalunya.
“Seandainya lebih panjang….” (Ketika berjalan menuju masjid ia menuntun si buta, dia menyesal mengapa jalannya tidak lebih panjang).
“Seandainya yang baru….” (Ketika dia memberi baju hangat yang lama, dia menyesal mengapa dulu tidak memberikan yang baru).
“Seandainya semuanya….” (Ketika dia memberi setengah roti, dia menyesal mengapa dulu tidak memberikan semua).
Saat sakaratul maut, Allah memperlihatkan balasan akan kebaikan itu. Dan sahabat menyesal karena belum maksimal melakukan kebaikan saja, sudah berasa nikmat ketika sakaratul maut, apalagi kalau maksimal dalam melakukan kebaikan.
Yang telah lalu tidak bisa berulang lagi, tinggal penyesalan. Dengan kisah inspiratif tadi semakin menambah keyakinan kita bahwa berbuat baik itu menguntungkan kita, baik di dunia, ketika sakaratul maut, ketika di kuburan, di Padang Mahsyar, dan di akhirat. Yang gemar melakukan kebaikan saja menyesal, apalagi yang tidak melakukan kebaikan.
Nah biar tidak ada penyesalan, selagi masih hidup pastikan rekening kebaikan kita selalu terisi maksimal.
#Day29 #30DWC #30DWCJilid22

Komentar Terbaru