Mengapa Berpikir Positif?

By: Ratna Farida
Pikiran akan melahirkan mindset (pola pikir) yang mempengaruhi intelektualitas, fisik, perasaan, sikap, hasil, harga diri, kondisi jiwa, kondisi kesehatan, percaya diri dll. Proses berpikir yang pertama kita dapatkan dari orang tua, kemudian keluarga, masyarakat, sekolah, teman, media massa dan diri sendiri.
Satu-satunya yang dibutuhkan sejumlah besar pikiran ini adalah pengarahan. Jika arah yang ditentukan bersifat negatif maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori ke arah negatif, begitu pula sebaliknya.
Menurut penelitian, lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif. Nafsu cenderung menyuruh pada keburukan. Setiap hari ada sekitar 48.000 pikiran negatif. Maka kita harus ekstra hati-hati dalam memilih pikiran di benak kita.
Ibnu Qayim berkata, “Mayoritas orang bahkan seluruhnya—kecuali yang dikehendaki Allah-berprasangka yang tidak benar dan berprasangka jelek kepada Allah. Mayoritas anak Adam berkeyakinan, hak-hak dirinya terzalimi dan bagiannya masih kurang serta berhak mendapat lebih dari apa yang telah Allah berikan kepadanya. Keadaannya mengatakan, ‘Rabb-ku telah berbuat zalim terhadapku dan menghalangi apa yang menjadi hakku,’ sedangkan jiwanya mempersaksikan kepadanya atas hal itu. Ia mengingkari Allah dengan lisannya dan tak takut berterus terang dengannya.
Dalam memanfaatkan kekuatan pikiran, tidak semata-mata hanya mendasarkan kekuatan manusia belaka, dan sudah pasti ada campur tangan tangan Allah. Sedangkan campur tangan Allah, juga tidak lepas dari prasangka pikiran kita terhadap-Nya .
Marilah kita memahami arti pikiran dan terapinya agar pikiran kita selalu positif. Untuk membuat perubahan yang sempurna seperti yang kita inginkan, mulailah dari dalam diri.
Marilah kita belajar (berilmu), berlatih dan berjuang menerapi pikiran kita. Tentu tidaklah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu.
#Day25 #30DWC #30DWCJilid22

Komentar Terbaru